Tias Tatanka
TIAS TATANKA MEMILIH BEKERJA DI RUMAH
Teropong, Harian Radar Banten*)
“Kecintaan kami pada buku memang menggila. Tak ada hari tanpa bacaan. Tak ada hari tanpa dialog buku dan seputarnya. Bagi kami, buku seperti hiasan yang harus dijaga benar-benar.”
Untaian kalimat di atas cukup menggambarkan sosok wanita belia kelahiran solo, 31 Juli 1971 ini. Membaca buku, bagi Tias –begitu panggilan akrab Asih Purwaningtyas Chasanah ini sudah jadi kebutuhan dan menu sehari-hari sejak duduk di kelas 1 SD. Tidak aneh kalau Tias gila buku. Sebab ayahnya HMA Agus Sutanto, BcHk adalah wartawan yang punya banyak koleksi buku.
“Kebiasaan ayah dan ibu saya yang gemar baca buku sepertinya menular pada saya. Semasa SMP dan SMA, sebagian uang jajan saya pakai untuk beli buku dan majalah remaja.kebetulan saya diberi uang jajan seminggu sekali. Beruntung juga kemudian saya mendapat suami pengarang, yang notabene gemar aca buku,” ujarnya kalem.
Dituturkan Tias, bacaan yang sering dia baca semasa bosah dan remaja antara lain majalh Bobo dan Hai, cerita bergambar Donald Bebek, Storm dan lainlainnya. “Tidak semuanya beli sendiri, tapi juga nebeng ke tetangga. Perasaan saya bahagia menikmati bacaan yang berkelas, meski dapat nebeng. Itu yang membuat saya tidak sampai ‘gelagapan’ ketika perbincangan teman-teman topiknya mengarah seputar itu,” kata sulung beradik tiga itu.
Pernah punya cita-cita jadi penulis atau wartawan? “Pernah juga saya kepingin jadi wartawan seperti ayah saya. Tapi setelah saya pikir-pikir, kayaknya capek jadi wartawan, maka saya batalkan keinginan itu. Kalau jadi penulis sih kayaknya bisa saya lakoni, karena tidak harus bertugas ke mana-mana. Itu cita-cita saya waktu sekolah. Makanya ketika saya masuk kuliah di Fakultas Teknik, teman-teman saya bilang, saya ini salah masuk,” jawabnya.
Teman-teman kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Surakarta, sambung putri Solo yang kerap menulis puisi itu, menyarankan dia masuk Fakultas Sastra. “Tapi saya tetap kuliah teknik. Sebab saya pikir, kemampuan saya menulis akan tertunjang oleh disiplin ilmu saya. Misalnya di samping saya bekerja di industri, saya akan bisa menulis lepas. Karena itulah saya rampungkan kuliah saya tanpa pindah fakultas,” katanya.

Menurutnya, setelah menikah, dia terobsesi ingin jadi guru. Aneh memang, katanya, keinginan itu sempat timbul karena dia terpikir bagaimana mendidik anak-anaknya. Tapi setelah dia pikir ulang lagi, tidak enak juga kalau bekerja di instansi yang notabene terikat waktu. “Kalau saya harus bekerja nine to five (dari pukul 9 pagi sampai 5 sore-red), bagaimana kehidupan anak-anak kami, sementara orang tuanya sibuk bekerja? Padahal usia 1-5 tahun adalan masa-masa emas pertumbuhan otak dan otot anak-anak,” uangkap sarjana teknik lulusan 1996 itu.
Lantas anda pilih jadi IRT (ibu rumah tangga –red) saja? “Ya, akhirnya saya yakinkan diri saya untuk jadi IRT saja. Saya tak takut dibilang IR hanya jadi IRT. Karena menurut saya, masa sekolah adalah proses pembentukan kepribadian, wawasan dan pola pikir seseorang. Saya tidak harus bekerja sesuai latar belakang pendidikan saya. Saya pilih jadi IRT, sambil menulis. Dengan cara begini saya punya kesempatan untuk selalu bersama anak-anak saya,” tegas ibu kesayangan Bella (Nabila Nurkhalishah), Abi (Gabriel Firmansyah) dan Odie (Jordy Alghifari) itu.
Tias menuturkan, ke-IRT-an itu memberinya banyak waktu luang untuk menulis. Dia kerap dimintai Gola Gong (suaminyantersayang - red) yang juga berprofesi sebagai penulis skenario sinetron. “Selain bisa membantu Aa, saya juga dapat uang tambahan dari order pembuatan skenario sinetron,” imbuh Tias. Sinetron apa saja yang pernah dia tulis skenarionya? Antara lain “Tetangga Oh Tetangga” (ANTV, 1997) dan “Maharani” (RCTI,2000), Al Bahri (TV 7, 2002), FTV (SCTV), dan “Cerpen TV” (TPI, 2003), Bukan Salah Bunda Mengandung (RCTI, 2005)
***
*) Artikel ini ditulis oleh (almarhum) Rahmat Yanto Suharja, wartawan Harian Radar bnten dan pensehat Rumah Dunia. Dia ditemukan tewas di selat sunda, Anyer, pada 19 FEbruari 2004

