NaBillA

anak1.jpgTIDAK ENAK JADI ANAK PEREMPUAN

Oleh Tias Tatanka

Nama putri sulung kami Nabila Nurkhalishah Harris. Papahnya pingin ada “Siti” di antara Nabila dan Nukhalishah. Papahnya ingin nama putri kami Nabila Siti Nurkhalishah seperti nama penyanyi asal Malaysia itu. Kami memanggilnya “Bella”

Pada suatu ketika saya dibuat takjub dengan pernyataan putri sulung saya, Bella (lahir 6 Februari 1998 di Serang, kelas 3 Antartika SD  Peradaban Serang) tentang tidak enaknya menjadi anak perempuan. Meskipun dia berpendapat dari sudut pandang anak kecil yang baru berusia tujuh tahun, tapi bagi saya hal itu harus diluruskan. Tentu saja penyampaiannya dengan bahasa dan logika anak-anak. Inilah yang sulit.

Saya mengorek dengan hati-hati sebab-musabab lontaran pernyataannya. Sekilas Bella merasa ada yang salah dengan ucapannya, tetapi saya meyakinkannya bahwa kami selalu menghargai setiap pendapat yang dikemukakan dengan baik-baik.

Sebenarnya hal semacam itu tidak terlalu mengejutkan saya dan suami, karena terkadang Bella suka mendengarkan pembicaraan tiap orang yang ditemuinya. Lalu dia akan menanyakan banyak hal pada kami, atau tiba-tiba berkomentar panjang lebar.

Tapi kata-kata anak sulung saya, “Memang tidak enak menjadi anak perempuan!” seperti déjà vu bagi saya. Saya pun pernah punya pikiran sama di masa kecil, tetapi tak mendapat jawaban yang memuaskan dari sekitar. Walhasil, tanpa sadar saya mencarinya sepanjang waktu, di sela-sela pertanyaan dan pemikiran tentang banyak hal. Hingga saat anak saya menyatakan hal yang sama, saya merasa menemukan jawaban atas pencarian saya. Padahal, sebenarnya saya rencanakan jawaban itu untuk anak saya.

TAKDIR BUKAN HUKUMAN
Entah siapa yang menggaungkan kata-kata itu kali pertama, yang jelas saya memulai dari situ untuk mendiskusikannya dengan putri saya.

Menjadi (anak) perempuan atau lelaki, sudah digariskan oleh Allah SWT sejak dalam kandungan. Dia pasti punya maksud tertentu yang pasti terbaik bagi seseorang, dan Allah SWT tidak pernah memihak salah satu. Semua pilihan diserahkan pada manusia, untuk melakukan apa yang ia mau. Tinggal bagaimana (anak) perempuan dan lelaki tadi berperilaku.

Jika Bella ditakdirkan menjadi anak perempuan, bukan berarti Bella dihukum tidak boleh bersikap seperti anak lelaki. Tetapi Allah melihat sifat-sifat yang ada dalam diri Bella saat masih jadi bayi di kandungan, sifat-sifat itu yang menentukan Bella lebih cocok sebagai perempuan daripada lelaki.

TAKDIR BUKAN MASALAH BAGI BELLA
Saat saya berlega hati menemukan jawaban pertanyaan usang, Bella meloncat ke sisi lain pikirannya. Katanya, bukan masalah bagi dia menjadi anak perempuan, tetapi yang berat itu saat beranjak besar nanti.

Anak perempuan nantinya akan menjadi wanita dewasa, itu artinya harus jadi ibu-ibu, lalu hamil, punya anak, mengurusi rumah, mencuci, memasak, dan seabreg pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung selesai. Belum lagi jika harus bekerja jika penghasilan suaminya sedikit.

Sementara anak laki-laki hanya main di luar, boleh bepergian kemana-mana, jika besar nanti tidak usah melahirkan, tugasnya hanya bekerja dan bekerja. Bahkan Bella menambahkan satu poin lagi keberatannya: lelaki dewasa tidak usah merasakan sakit dan berdarah saat melahirkan!

Sesaat saya bengong dengan kata-katanya. Sebegitu jauhkah pemikirannya? Atau jangan-jangan kesalahan ada di kami, orang tuanya yang membiasakan dialog tentang apa pun?

Akhirnya, saya menyuruh Bella melihat orang tuanya. Saya gambarkan betapa papahnya kerja keras mencari nafkah dan rela tinggal berjauhan, sementara mamahnya menangani pekerjaan di rumah termasuk mengurus anak-anak. Tapi papah dan mamah tidak pernah merasa iri satu sama lain, karena tanggung jawab itu telah dibagi dengan adil. Dan karena didasari dengan rasa saling menyayangi, papah dan mamah melakukannya dengan senang hati dan bahagia.

Saya tidak tahu apakah putri saya puas dengan penjelasan itu. Karena sebagaimana biasa, jika ia belum puas dengan uraian saya, lain waktu dia akan mengangkat topik pembicaraan yang sama. Yang jelas, saya pribadi merasakan kepuasan, telah menemukan sebagian jawaban atas pertanyaan usang di masa kecil, melalui putri saya.

Ah! Hidup memang sebuah rahasia besar yang terus-menerus memerlukan pencarian jawaban.

***

*) Foto: Bela (kiri) bersama Didi, Kaka, Abi