RELAWAN GENERASI BARU DI RUMAH DUNIA INGIN JADI PENULIS HEBAT

Posted by admin on July 15th, 2008 filed in JurnAL RUmAH DunIA

pgri-2.jpgOleh Gola Gong
Sekitar  pertengahan Jun 2008, saya kedatangan tamu bernama Rahmat Heldy (28 th). Dia pernah bergabung jadi peserta Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan kelima (2003). Dia alumni Fakultas Sastra Universitas Tirtayasa dan sekarang menjabat Wakasek Kesiswaan di Pondok Pesantren Al-Irsyad, Waringin Kurung. Kedatangan Rahmat hari itu ditemani adiknya, Abdul Salam (15 th), yang baru lulus dari MTsN, setingkat SMP. Salam mau meneruskan sekolah di Serang. “Kalau di kampung, nggak bakalan maju-maju, nyangkul di sawah treus,” kata Rahmat.  “Di kota, insya Allah, wawasannya akan bertambah. Apalagi kalau aktif di Rumah dunia,” tambahnya.  Cerita Rahmat selanjutnya, Rumah Dunia berperan banyak dalam kehidupannya. Dia sekarang sudah sering menulis essay, puisi, dan cerpen di tabloid Kaibon yang digawangi para alumni KMRD, koran local; Radar Banten, dan Fajar Banten. Namanya mulai dikenal sebagai penuils muda di Banten.
DAFTAR RELAWAN
Saya memandangi kakak beradik itu. Mereka orang-orang yang sedang melaksanakan hadis nbai, bahkan Al-Qur’an, bahwa mencari ilmu ini hukumnya wajib.  Sya sudah tahu akan ke mna arah pembicaraan mereka. Tapi, sya ingin melihat kemampuan berbicara (diplomasi) mereka. Saya ingin menguji mental mereka.
“Kamu mau apa datang ke Rumah Dunia?” tanyaku.
Jawab Salam, “Saya ingin terkenal seperti kakak saya.”
“Kalau ingin terkenal, kamu salah datang ke Rumah Dunia. Di sini tempat untuk saling berbagi ilmu. Bukan untuk mencari popularitas.”
Salam gugup.
Rahmat tampak cemas sekali memikirkan nasib adiknya. “Ayo, yang jelas kalau ngomong,” tegur Rahmat tertawa.
“Maksud saya,  sebagai penulis, seperti kakak saya. Di kampung saya, kakak saya terkenal.”
Saya tersenyum. Sewaktu kecil, saya juga igin seterkenal Muhammad Ali dan Rudi Hartono. “Apa yang bisa saya bantu untuk adikmu ini, Rahmat?” tanya saya.
“Saya ingin adik saya ini juara di masyarakat, Mas Gong…, bukan juara di sekolah,” suara Rahmat menggebu-gebu.  “Bagi saya, juara di sekolah tidak penting. Dan Rumah Dunialah tempat yang cocok bagi adik saya. Tadinya, saya mau titipkan adik saya di mushola, tapi abah dan emak saya tidak mengijinkan,” Rahmat menerangkan maksudnya.
Saya tercenung. Di dalam hati, saya menangis. Di Banten, fenomena orang-orang dari kampung yang menimba ilmu di kota Serang dan tidur di mushola menjadi marbot, sudah biasa. Saya langsung teringat almarhum Bapak, yang selalu wanti-wanti kepada saya, untuk berusaha membantu kepada orang-orang yang akan menuntut ilmu. “Jadi, adikmu ini mau kamu titipkan di Rumah Dunia?” aku langsung meminta penegasan.
Rahmat tersipu. “Mohon maaf kalau saya lancing, Mas,” Rahmat menunduk. “Itu juga kalau Rumah Dunia masih membutuhkan relawan, adik saya bersedia. Dia siap bantu-bantu di sini…”
“Kalau biaya sekolah, bagaimana?”
“Insya Allah, Abah sama Emak punya uang untuk itu. Kami tidak akan merepotkan. Juga kami akan mengirimkan beras setiap bulan untuk dia makan…”
Saya tersenyum. Ketika almarhum Bapak masih hidup, di setiap musim panen, banyak orangtua murid Bapak yang datang mmebawa sekarung beras. Bahkan rambutan, duren,  dan pisang. “Baik. Akan saya bicarakan dulu dengan Firman sebagai Presiden Rumah Dunia. Juga dengan para relawan. Kalau dari saya, insya Allah, bisa. Seminggu lagi, ya.”
Salam mendongak menatap kakaknya.
“Tapi, tolong, minggu depan bikin tulisan, ya. Ceritakan saja keinginan Salam bergbung di Rumah Dunia. Juga pengalaman hari ini. Saya ingin melihat kemampuan Salam dalam ketrampian menulis…”
Rahmat menatap adiknya. “Bagaimana, sanggup?”
Abdul Salam ragu.
“`Jangan pernah takut untuk menulis,” kataku. “Saya hanya igin mengetahui, sudah sejauh mana kemampuan kamu mengelola bahasa.”
Abdul salam pun mengangguk.

MAKNA RELAWAN
Saya terlempar ke beberapa tahun ke belakang. Banyak orang yang berdatangan ke Rumah Dunia. Mereka dari beberapa kota di sekitar Banten (Rangkas, Pandeglang, Cilegon, dan Tangerang). Ada yang ingin mendaftar sebagai peserta KMRD dan jadi relawan.
Saya akan menulis orang-orang yang datang mendaftar sebagai relawan. Pertama, saya ingat sekali yang datang mendaftar jadi relawan adalah Firman Venayaksa dari Warung Gunung, Rangkasbitung. Di suatu siang, Firman datang ke Rumah Dunia. Firman baru saja lulus S1 UPI Bandung (mungkin sekitar 2002). Sebetulnya di Rumah dunia sudah ada relawan seperti Ibnu Adam Aviciena dan Muhzen Den. Tapi mereka  tidak menjdaftar, justru saya yang menawarkan kepada mereka untuk tiggal di Rumah Dunia membntu saya. Sedangkan Firman menyatakan diri ingin bergabung. Saya mnaruh harapan besar kepada Firman, karena memiliki potensi beragam di bidang seni. Firman bisa menuis puisi dan cerpen, mempunyai grup musikalisasi puisi.
Saya membutuhkan seseorang yang kelak bisa memimpin Rumah Dunia. Orang itu harus memiliki kemampuan seni, sense of art. Saya dan Toto ST Radik tidak akan selamanya menjadi penggerak Rumah Dunia. Saya juga tidak bisa berharap banyak, meminta kepada Andi Suhud, Si Uzi (Banten Raya Post), Abdul Malik (Radar Banten) untuk total menjadi relawan Rumah Dunia. Mereka hanya bia mensupport Rumah Dunia dalam betuk percetkan dan publikasi mdia, Alhamdulillah, Firman tetap konsisten dan kini menjadi Presiden Rumah Dunia.
Kemudian beberapa nama muncul. Saya ingat di suatu pagi, seseorang baru saja datang menempuh perjalanan jauh memakai bus malam dari Bali (2004). Saya kumpulkan para relawan untuk mendengarkan maksudnya. Namanya saya lupa. Dia menyodorkan sebuah map berisi daftar riwayat hidup. Dia S1 di bidang hukum. Dia melamar jadi relawan dan memberikan jaminan akan mengembangkan Rumah Dunia. Dia memiliki banyak relasi untuk menggali dana-dana dari luar negeri. Dan dia meminta insentif perbulan serta komisi.
Saya menyambut baik keinginannya. Saya menjelaskan, di Rumah dunia sangat membutuhkan banyak relawan. Tapi untuk tinggal di Rumah Dunia tidak mungkin, karena sudah ada Ibnu, Muhzen Den, Rimba Alangalang, Aji Setiakarya, dan Langlang Randhawa. Saya juga menjelaskan, bahwa menjadi relawan di Rumah Dunia tidak dibayar sepeser pun. Rumah dunia bukanlah tempat untuk mencari penghidupan. Semua orang yang terlibat di  Rumah Dunia sebagai relawan selain mahasiswa, memiliki pekerjaan seperti guru, dosen, pegawai pemerintahan, dan penulis seperti saya (waktu itu saya bekerja di RCTI).
Saya lihat orang itu kecewa. Saya tidak igin menyakiti hati orang itu. Saya tidak igin mematahkan semangatnya. Saya jelaskan lagi, para relawan yang tinggal di Rumah Dunia hanya bis saya penuhi kebutuhan makan dan  minumnya saja. Untuk biaya kuliah, mereka menulis esay di Koran local atau cerpen. Malah beberapa sudah menulis novel. Sesekali mereka saya ajak jadi asisten saya ketika mengisi ceramah tentang sastra, jurnalistik, dan film. Dan saya beri mereka insentif. Bahkan sesekali juga mereka menggantikan saya sebagai pembicara.
“Sesungguhnya kami adalah para pelayan bagi orang-orang yang ingin belajar dan berbagi ilmu di Rumah Dunia. Kami tidak mengambil keuntungan sepeser rupiah pun dari Rumah Dunia. Kalau pun ada dana atau sumbangan perorangan atau lembaga ke Rumah Dunia, itu kami pergunakan untuk kegiatan yang hampir setiap Sabtu-Minggu berlangsung di Rumah Dunia. Bukan untuk insentif kami. Sepeser pun kami tidak pernah melakukan itu,” panjang lebar saya jelaskan perkaranya.
Setelah orang itu menyantap sarapan, tanpa banyak bicara lagi, langsung bergegas pulang. Saya meminta tolong kepada Muhzen untuk mengntarkan ke jalan raya. Saya menghela nafas. Hanya Allah yang tahu tentang peristiwa hari itu. Setidak-tidaknya, para relawan di Rumah Dunia mendapatkan pelajaran berharga dari orang itu, bahwa untuk bisa sepenuh hati berbagi rasa, cinta, dan ilmu tidaklah muda. Memerlukan nyali atau keberanian yang tinggi. Kita sering mendengar ungkapan seperti, “Mana ada yang gratis di dunia ini!”
Cara berpikir seperti ini harus kita buang. Justru kita sebetulnya sanggup memberikan sesuatu yang kita miliki tanpa perlu kita meminta imbalan. Perkara di Rumah Dunia sudah sangat jelas. Jika dia memberi ilmu, insya Allah, derajatnya akan semakin ditinggikan dan Allah menebarkan rezeki sebanyak-banyaknya bagi mereka di luar Rumah Dunia. Itu banyak terjadi kepada mereka. Percepatan mereka dalam berkehidupan. Selain karena mereka memiliki kemampuan, stimulant yang  disediakan di Rumah Dunia mendorong mereka semakin cepat meraih mimpi-mimpinya. Simulasi-simulasi yang disediakan Rumah Dunia seperti Tabloid KAIBON dan situs www.rumahdunia.net  melancarkan jalan mereka untuk menjadi penulis. Jika menimba ilmu, Allah akan membuka pintu-pintu masa depan yang cerah bagi mereka. Rumah Dunia ibarat pancing.
Kemudian lewat telepon. Banyak yang mendaftar ingin menjadi relawan. Rata-rata mereka salah memaknai, bahwa menjadi relawan itu sebetulnya pengabdian dengan penuh cinta, bukan karyawan di perusahaan swasta atau pemerintahan. Rumah Dunia bukanlah sebuah perusahaan. Rumah Dunia hanyalah sebuah pusart belajar. Jika ingin bergabung menjadi relawan di Rumah Dunia harus dengan segenap hati. Bahkan selain tidak dibayar, bisa saja justru mengeluarkan uang.
Relawan pu datang dan pergi. Ada Annisa dan Daromir (2004) dari Amerika, yang jadi relawan. Mereka nge-kos di Cilegon. Ada Wanja (2005) dari Palembang, yang cuti 1 semester dari kuliahnya di UNSRI Palembang untuk menjadi peserta KMRD dan relawan. Wanja nge-kos di Serang. Dan ada par relawan musiman, yang selalu hadir di setiap kegiatan di Rumah Dunia, yaitu peserta KMRD dan anak-anak Forum Lingkar Pena serta Forum Kesenian Banten.

GABUNG RELAWAN
Seminggu kemudian, di akhir  Juni, Rahmat dan Salam datang lagi. Saya sudah membicarakan hal ini dengan Tias Tatanka – istri, Emak, dan dengan Firman serta relawan Rumah Dunia lainnya. Jawabannya, Salam diperbolehkan tinggal di Rumah Dunia bersama relawan lainnya yang sudah lebih dulu bergabung; Muhzen Den (20), Roy(17), Oky (15), Rozy (17), Awi (22), dan Ajat (20). Kami membutuhkan seorang relawan lagi.
“Alhamdulillah, Salam bisa bergabung di Rumah dunia,” kata saya.
Rahmat dan salam senang bukan kepalang.  Saya juga senang. Saya  membayangkan, kalau saya berada di pihak mereka, lantas ditolak? Saya  pasti akan bersedih. Dan bisa saja sakit hati. Saya patut bersyukur bisa mengatasi  masalah ini. Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik.
Tantangan ke depan sangat berat. Relawan-relawan ini masih green horn, meminjam istilah Karl May di buku “Old Shaterhand dan Winnettou”, yang  artinya masih hijau pengalaman. Saya mengatakan ke Firman, tugas kita semakin berat. Kita harus mendidik mereka dari nol lagi. Saya ceritakan ke Firman, ketrampilan berbahasa mereka juga di bawah standar. Bahkan dengan Bella (10 th),  yang sudah menulis novel, masih jauh. Wajar saja. Bella memiliki darah kepenulisan, karena sayasebagai ayahnya  seorang penulis. Sedangkan ayah merka hanyalah petani, yang lebih akrab memegang cangkul ketimbang pena.
Muhzen Den diberi wewenang jadi pelaksana harian, karena selain warga asli Ciloang, dia relawan senior alias paling lama di sini. Deden sangat antusias. “Saya akan lebih banyak berpikir dan bekerja daripada bicara,” kata Deden, yang  memang lemah di ketramilan berbicara. Jika berbicara, Deden selalu gugup dan tidak focus. Saya kadang merasa aneh. Segala macam cara, bahkan kesempatan, sudah kami berikan untuk melatih Deden berbicara. Tapi, belum berhasil juga. Kini Deden terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Sastra Untirta Serang, tahun ketiga. Walaupun lambat, puisi-puisinya sudah muncul di tabloid Kaibon, Aneka,  dan Radar Banten. Tampaknya Deden lebih enjoy di menulis. Kini Deden sedang saya latih menjadi redaksi pelaksana www.rumahdunia.net. Deden mendapat beasiswa dari Rumah Dunia.
Relawan kedua Roy, asli Ciloang juga, kebagian jadi sekretaris.Dia kelas 3 di SMA PGRI 1. Dia bergabung sejak masih di SD dan pengamen jalanan. Ketrampilan berbicaranya bagus, karena sering dilatih di bus saat mengamen.  Saya berharap banyak kepada Roy, agar anak muda di Kampung Ciloang mengikuti jejaknya. Roy saya targetkan menjadi Humas Rumah Dunia. Saya melatih Roy, agar saat menyebarkan liflet kegiatan Rumah Dunia, belajar mengenalkan apa itu Rumah Dunia dan kegiatannya kepada orang-orang. Saya bilang ke Roy, bahwa jangan mau hanya sekedar sebagai tukang antar surat atau nyebar liflet saja. Tapi, harus jadi seseorang yang memiliki banyak informasi. Roy adalah generasi pengamen Ciloang yang tersisa. Rumah Dunia pernah memberi beasiswa kepada Roy dan Wahyu, temannya sesama pengamen. Tapi Wahyu kabur dan hingga sekarang jadi pengamen. Sedangkan Roy masih setia jadi relawan di Rumah Dunia. Setiap thun, Roy mendapat bantuan program beasiswa dari Rumah dunia. Setelah tidak lagi bekerja di RCTI dan berangsur-angsur membaik, saya menyediakan waktu lebih banyak untuk membantu Roy mewujudkan mimpinya mnejadi seorang penulis. Ketika kami pulang dari sholat berjamaah di Mesjid Hegar Alam, Roy mengungkapkan isi hatinya, “Saya sudah mulai enjoy menulis, Mas…”
Rozy, relawan ketiga, asal dari Tangerang, diserahi pekerjaan mengurusi perpustakaan. Rozy ini unik. Pernah datang ke Rumah Dunia saat kunjungan bersama Ponpes Gontor. Saat itu Rozy masih terdaftar jadi santrinya. Tapi, di awal 2008, Rozy memilih keluar dari Ponpes Gontor. Alasannya, lama lulusnya. Beberapa bulan di awal 2008 ini, Rozy aktif di Rumah Dunia jadi relawan. Rozy sudah ikut menjaga stand Rumha Dunia di kegiatan “World Book Day” 2008 yang diselenggarakan Forum Indonesia Membaca. Roy masih mencari sekolah yang bisa menampungnya. Sekaragn dia setara di kelas 3 SMA. Ketika saya membaca tulisannya, saya senang. Saya hanya perlu memberi koreksi di beberapa bagian saja; penggunaan tanda baca dan dimana harus memasukkan referensi supaya kelihatan rda “centil”.
Salam dan Oky kebagian di seksi sibuk. Aku senang karena semuanya siap jadi pelayan. Saya akan bercerita tentang Oki dulu. Dia adik Aji Setiakarya, asal Cimoas, arah selatan dari Serang. Dia menemani saya selama sebulan saat saya dirawat di RS Holistic Purwakarta. Dia sudah setengah tahun jadi relawan di Rumah Dunia . Kemampuan berbahasanya juga di bawah standar. Di RS Holistik, Oki pernah saya latih mengetikkan scene plot sebuah cerita. Ketika saya baca, saya tersenyum. Dia belum mengerti  tata bahasa. Hampir kebanyakan orang di negeri ini, selain rabun baca, juga gagap berbahasa.
Relawan terakhir adalah Abdul  Salam. Seminggu kemudian, Rahmat datagn lagi dengan bdul Salam. Bahkan kali ini diantar ayah dan ibunya. Kata Deden bercanda, “Kayak penganten sunat saja.”
Ayah Abdul Salam, Haji Husni, dan ibunya Hj. Sarinah. Salam anak ke-6 dari istri kesatu.  Dia tinggal di kampung Bojong, desa Sukadalem, Waringinkurung. Dia sudah mantap jadi relawan di Rumah Dunia.  Ketika datang, ayahnya membawa sekarung beras. “Sawah sedang panen,” kata  mereka.
Saya menegaskan, tidak usah membawa beras segala, kalau itu dijadikan sebagai sarat menjadi relawan Rumah Dinia. Insya Allah, untuk urusan makan, apa yang saya makan beserta keluarga, Salam dan para relawan lainnya tinggal datang saja ke dapur kami, yang memang sengaja kami buat terbuka. Tapi ada hal yang saya tegaskan kepada Salam: kita adalah para pelayan. Kita harus menjadi pelayan terbaik bagi para tamu yang datang ke Rumah Dunia. Pelajaran pertama kepada para relawan adalah menanamkan keyakinan, bahwa pekerjaan sebagai pelayan bukanlah sesuatu yang hina. Pelayan bagi yang haus ilmu, itu berarti pelayannya juga tentu harus berilmu.
***
*) Komplek Hegar Alam 40, Kampung Ciloang
*) Penulis adalah penasehat Rumah Duinia.
*) Foto dari kiri Roy, Oki, Salam, dan Rozy mejeng di mobil library sumbangan Yayasan Nurani Dunia - XL Care

Leave a Comment