CARA BERPIKIR OUT OF THE BOX

Posted by admin on July 10th, 2008 filed in BukuKu Hatiku

book-stories-3.jpgOleh Gola Gong - Aku berdiri di hadapan sekitar 25-an orang di ruang Anggrek Gedung Istora Senayan, Pesta Buku Jakarta, 2 Juli 2008. Saat itu aku menemani Irwan Kelana sebagai penulis buku “Inspiring Stories” (Tiga Serangkai, April 2008). Aku menjelaskan kepada orang-orang, bahwa aku masih tidak percaya disertakan oleh Irwan Kelana dan Ahmadun Yosi Herfanda sebagai orang yang dianggap sudah memberi inspirasi kepada orang lain. Ada 29 nama lain dibuku itu, mulai dari Aa Gym, Gus Dur, Emha Ainun Najib, Gito Rollies (alm), Helvy Tiana Rossa, Habiburrhaman El-Shirazy, Inneke Koesherawati, Neno Warisman, WS Rendra, Susilo Bambang Yudhoyono, Taufik Ismail, hingga Zazkia Adya Mecca. Ada 30 nama yang dikategorikan sebagai orang yang memberi inspirasi. Aku merasa tidak pantas

Tiba-tiba ingatanku melayang ke masa kanak-kanak dulu. Bapak dan Emak sering membawa buku-buku biografi orang-orang hebat. Aku membaca kisah Thomas Alfa Edison, Marcopollo, Columbus, Beathoven, Napoleon Bonaparte, Mac Arthur, Bung Karno, Pangeran Diponegoro, dan masih banyak lagi. Aku kecil juga menyukai pelajaran sejarah. Dan hingga sekarang yang masih terus melekat adalah, cerita Bapak tentang fenomena telor Columbus.

Begini cerita Bapak: Sepulang Columbus dari penemuan benua baru bernama Amerika, para petinggi di Spanyol menganggap hal itu sesuatu yang biasa saja. Mereka mencemooh, itu sangat mudah. Siapkan saja perahu besar, para awak kapal, dan perbekalan. Lalu, bentangkan layar dan kayuhlah dayung! Laju, lajulah perahu! Pasti akan sampai juga ke daratan. Columbuss dengan tenang mengambil telor. Columbus menantang, adakah yang sanggup memberdirikan telor di atas permukaan meja. Dengan sombongnya para petinggi itu meletakkan telor di permukaan meja. Tapi, tidak ada satupun yang berhasil. Telor itu selalu tergelincir jatuh. Akhirnya mereka menyerah. Columbus mengambil telor itu dan dengan tenang menetaskan ujung telor yang lancip ke permukaan meja, sehingga jadi rata. Telor pun berdiri tegak. Semua petinggi tidak bisa menerima dan memrotes, karena sudah merasa dibohongi. Mereka mengatakan, kalau dengan cara seperti jelas bisa. Lalu Columbus menutup pertemuan itu dengan satu kalimat, “Itulah yang membedakan saya dengan Tuan-tuan. Saya selalu berpikiran lebih maju dari Tuan-tuan. Dan setelah itu, barulah Tuan-tuan mengatakan sanggup melakukan apa yang sudah saya lakukan. Tuan-tuan adalah pengekor. Dn menjadi pelopor seperti saya, tidaklah mudah, Tuan-tuan.”

Aku terkesima dengan cerita Bapak. Hingga detik ini, cerita “telor Columbus” selalu saya ceritakan kepada orang-orang yang datang ke Rumah Dunia. Terutama kepada orang yang berbicara, “Ah, kalau bikin yang seperti ini, saya juga bisa!”

Menjadi pengekor memang sangatlah mudah. Lihatlah, apa yang dilakukan oleh anak-anak muda di negeri ini, semuanya pengekor. Bahkan instan! Sebetulnya tidak jelek menjadi pengekor, jika itu dimaksudkan sebagai sebuah proses. Tapi menjadi orang yang memulai “dari tiada menjadi ada”, itulah yang sulit. Tidak sekedar membutuhkan wawasan dan ilmu pengetahuan saja, tapi keberanian untuk memulai. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym di buku “Inspiring Stories” mengatakan, “Hindari kesalahan besar, yaitu kesalahan tidak berbuat apa-apa.” Sama halnya dengan pepatah lama, “Orang yang tidak melakukan apa-apa, berarti dia tidak memiliki cita-cita.”

Thomas Alfa Edison saja ratusan kali melakukan percobaan, sebelum berhasil menemukan listrik. Kata Edison, “Dengan kegagalan itu, saya jadi banyak tahu hal-hal yang tidak akan menghasilkan listri. Intinya, jika kita ingin sukses, kita harus berani melakukan banyak hal. Bukan sekedar mencoba lagi, tapi melakukannya dengan serius dan ketekunan. Opik memerlukan 1000-an lagu sebelum akhirnya menemukan arah tepat bagi hidupnya, menyanyikan lagu-lagu relijius.

Termasuk ketika aku menulis buku yang sedang Anda baca, wahai Sahabat. Aku serius menuliskannya. Aku ingin memulai dari “tiada menjadi ada”. Aku tekun menyusun kata demi kata. Aku ingin setiap huruf yang kurangkai menjadi “kata” memiliki “makna”. Aku igin memberi semangat kepada generasi muda di negeri ini, lewat pengalaman-pengalamanku sebagai orang cacat di negeri ini. Menjadi manusia berbeda di negeri ini tentu mengalami pengalaman berbeda pula. Barangkali itu bisa dijadikan cermin bagi kita semua.

Aku pernah bertanya kepada Bapak dan Emak, “Kenapa aku bisa kreatif seperti sekarang ini?” Aku takut jika mengatakan aku sukses, walaupun orang-orang mengatakan begitu. Aku khawatir termasuk ke orang-orang yang takabur. Aku lebih senang menyebutnya “semangat” atau “kreatif”.

Jawab orangtuaku, “Karena kamu rajin membaca.”

Apa hubungannya antara membaca dengan kreatif?

Bapak dan Emak kemudian membuka sebuah rahasia besar. Apa-apa yang sekarang aku lakukan adalah mimpi Bapak dan Emak. Akulah yang mewujudkannya. Tapi itu tidak serta merta terjadi dalam satu malam. Bapak dan Emak merencanakannya kepada anak-anaknya secara perlahan. Tahap demi tahap. Bapak dan Emak memiliki keinginan banyak, tapi mereka sadar tidak mungkin mewujudkannya. Bapak pernah memiliki keinginan keliling dunia dan mimpi itu kemudian dilimpahkan kepadaku. Terbukti, Bapak dan Emak sangat mendukungku ketika aku mencari pengalaman batin dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia (1986 – 87) dan Asia (1990 – 92). Bapak juga ingin menjadi juara dunia badminton seperri Rudi Hartono dan itu dialihkan kepada anak-anaknya. Hampir semua anak-anaknya pernah menyabet juara badminton, walaupun hanya setingkat provinsi di Banten. Aku sendiri pernah juara kedua badminton tingkat Yunior di Serang (1982), bersaing dengan pebulutangkis berlengan dua. Tapi untuk sesama atlet berlengan satu, aku juara badminton se-Asia Pasipic (1989-90).

“Semua tidak dengan paksaan,” Emak menjelaskan. Artinya, mereka tidak pernah menyuruh aku untuk menjadi ini dan itu. Mereka hanya mennyediakan sarananya saja. Jika si anak melakukan sesuatu pekerjaan atas keinginan orang tuanya, itu tidak baik. Yang paling baik keinginan itu muncul dari keinginan si anak. Bapak dan Emak hanya memancing rangsangan-rangsangannya (stimulant) dengan buku-buku disusun di rak-rak, di halaman rumah disediakan aena bermain sederhana; ayunan, perosotan, jungkit-jungkitan, dan kolam ikan. Kemudian praktek (simulasi) akan muncul dengan sendirinya. Aku kecil sangat bergembira sekali, sehingga paling sering melakukan praktek-praktek. Ini perkara otak kanan. Cara berpikirku lebih cepat dari teman-teman sebayaku.

Kemudian Rumah Dunia. Itu adalah keinginan Bapak dan Emak. Mereka pernah mengatakan kepadaku, jika Bapak dan Emak tidak berhasil mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang menampung anak-anak yatim secara gratis, aku harus mewujudkannya. Sebagai pendidik mereka merasa miris dengan mahalnya biaya pendidikan di negeri ini, apakah itu swasta atau negeri. Hanya saja, aku mengaduk-aduk beragam formula dan gagasan, misalnya konsep gelanggang remaja made in Ali Sadikin, aku terapkan di Rumah Dunia.

Setiap hendak melakukan sesuatu, Bapak dan Emak selalu mengingatkanku agar melakukannya dari “nol” atau “hal kecil”. Dalam bingkai kekinian, aku dilarang membikin proposal dan menjadikanya itu sebagai bagian dari proyek, dimana angka-angka menjadi tujuan. Semua harus bermula dari diriku sendiri. Itulah yang dinamakan cara berpikir di luar kelaziman, out of the box. Ketika orang-orang sibuk mengurusi akta notaris untuk lembaga yang didirikan dan proposal program untuk mendapatkan dana, aku dan istriku – Tias Tatanka, memulainya dari teras rumah, ke halaman belakang, ke tetangga, meluas ke kampung tempat kami tinggal, dan seterusnya…

Memulai sesuatu selalu harus diawali dengan uang itu sebetulnya tidak benar. Atau melakukan sesuatu harus dengan memiliki jabatan, itu juga salah. Di negeri ini memang orang masih memakai cara berpikir “siapa yang berbicara” bukn pada “apa yang dikatakan”. Amien Rais dengan sangat bijak menamsilkan, “Jangan seperti kancil pilek, yang ketika sedang sakit ia kehilangan kecerdikannya.” Amien memisalkan dirinya, yang dipecat dari ICMI dan Republika gara-gara tulisannya yang berjudul “Kejujuran” dimuat di Resonansi Republika (29 Mei 2007) membikin rezim Orde Baru kebakaran jenggot. Justru setelah peristiwa pemecatannya itu oleh BJ Habibie sebagai petinggi ICMI, Amien Rais menjadi lokomotif reformasi saat menggulingkan rezim orde baru di bawah pimpinan Soeharto.

Aku hanya orang biasa, yang berusaha menjadi “seseorang”. Kenapa aku harus menjadi “sesorang”? Karena di negeri ini masih memakai pola “siapa yang berbicara”. Apalagi aku cacat. Aku menjalani proses panjang untuk menjadi “sesorang”, agar “apa-apa yang aku bicaarakan” didengar orang. Aku tahu, uang sangat penting untuk mengongkosi idealisme. Tapi, itu bukan ukuran segalanya. Aku memulainya tidak dengan uang, apalagi dengan jalan “meminta-minta”, menyebarkan proposal ke dinas-dinas untuk membiayai “proyekku” dengan dalih mengatasnamakan rakyat. Tidak. Aku memulainya dengan cinta, karena ini bukan merupakan hak, tapi kewajibanku untuk berbahi rasa, cinta, dan terhadap sesama.

Ini memang perkara moral. Robert Coles mengutip pernyatan seorang professor di sekolahnya (Menumbuhkan Kecerdasan Moral pada Anak, Gramedia, cet.III, Maret 2003), bahwa “Anda akan mengenal ‘kcerdasan moral’ kapan saja Anda melihatnya, kapan Anda mendengarnya sedang beraksi – seorang anak yang cerdas dalam segi itu, cerdas bukan dengan fakta dan angka-angka, melainkan dengan cara dan tingkah lakunya, cara berbicaranya mengenai orang lain, memperhitungkan orang lain.” Tambah Coles, bahwa anak-anak merupakan saksi, anak-anak adalah saksi yang selalu memerhatikan moralitas orang dewasa. Jadi, ap-apa yang aku perbuat atau peroleh sekarang, tidak lain dari peniruan dari apa yang pernah dilakukan oleh orang tuaku. Setelah itu, aku menambahkannya supaya menjadi lebih baik.

Ketika aku bekerja di RCTI sebagai creative (1996 – 2008), berpikir out of the box adalah suatu keharusan. Dituntutnya aku berserta creative lainnya untuk membuat program TV yang memiliki kriteria sebagai sesuatu yang baru (something new), memiliki ide gila (crazy idea), menciptakan trend baru (trend setter). Idealisme harus dikompromikan, karena seluruh kriteria itu diukur dengan “tuhan-tuhan” televisi; rating dan iklan.

Mampukah aku berpikir out of the box?

Itu harus kita jawab dan merupakan pekerjaan rumah bersama.

***


5 Responses to “CARA BERPIKIR OUT OF THE BOX”

  1. alip Says:

    salam kenal mas…
    emang sih, saya bisa dikatakan sebagai pendatang baru dan peng hoby baru dlam dunia menulis. saya sudah membaca buku mas yang jangan mau gak nulis seumur hidup. saya sangat terinspirasi dari buku mas…saya sangat tertarik untuk menulis skenario. kemarin saya juga ikut LA LIGHTS indie movie, tapi belum berhasil…mungkin sinopsis saya kurang maut…(hehe)
    just want to say, thank’s for your word…
    next time aku boleh kan tanya2 masalah tulis menulis..???
    tq

  2. admin Says:

    boleh. datang aja ke Rumah Dunia. Pas week end, Sabtu dan Minggu. nginep sama relawan RD semalam. liburan seruuu.. Minggunya ikut jadi “siswa tamu” kelas menulis Rumah Dunia. (GG)

  3. rahman nawawi Says:

    mas, aq salut dengan perjuanganmu di rumah dunia.
    gini mas, saya seorang santri asal serang banten yang kini bermukim di pesantren al ma’ruf kediri jawa timur. ada banyak puisi2 teman2 santri banten yang bermukim di kediri, pertanyaan saya bagaimana agar puisi itu bisa di bukukan?

  4. admin Says:

    rahmat, wong banten sire tah? heheh… keur naon dia dak di kediri? kursus bahasa inggris di kampung pare? soal puisi, emang rada ribet. teu laku dijual. penrbit lagi getol nerbitin novel atau memoar. puisi mah, biasana patungan, urunan. di yogya banyak pnrbit independent… searching aja di google (GG)

  5. sutono Says:

    tidak berlebihan kalo mas gong terpilih. mas gong memang menginspirasi banyak orang.eksample saya. terus nulis ya mas…en jaga kesehatan.

Leave a Comment