MENGAJAK ANAK MENJELAJAH DUNIA BARU
Posted by admin on June 27th, 2008 filed in Essays
Oleh: Tias Tatanka
Sampai sekarang, setiap melihat kanak-kanak, pikiran saya dipenuhi pertanyaan “apa yang ada di dalam benaknya?” Pandangan mata mereka begitu polos, cara bicara yang lucu, terkadang mereka melakukan hal sama berulang-ulang, yang menurut orang dewasa “begitu tidak praktis”. Itu menurut orang dewasa, tapi bagi kanak-kanak, perulangan itu amat menyenangkan, karena fitrahnya mereka sedang belajar. Hal terakhir sering kita sepelekan, kita cenderung tidak mau meniru proses ‘belajar’ seorang anak, akibatnya sering terjadi orang dewasa mengulang-ulang kesalahan.
NALURI BELAJAR
Seorang anak adalah semisal kertas putih. Kita tahu ungkapan itu, tapi yang biasanya dilupakan adalah bagaimana kita mengajari dan membimbing mereka ‘menuliskan’ pelajaran yang harus mereka ingat. Dan yang juga sering dilupakan para orangtua, anak-anak itu punya keinginan dan kemampuan sendiri, yang menjadi cara mereka belajar. Tapi atas nama ‘prestise’, ‘jenius’, ‘cerdas’, ‘perkembangan pesat’, dan labelisasi lain, anak dipacu untuk memenuhi harapan orang tua. Padahal, dengan asupan gizi cukup dan pemberian stimulasi sesuai usia, anak-anak akan tumbuh wajar berdasar kemampuannya sendiri. Demikian pula nalurinya untuk belajar dari lingkungan sekitar.
MENGENALKAN BACAAN SEJAK DINI
Saat mengetahui hamil anak pertama, saya dan suami dengan suka cita merancang ‘menu otak’ bagi janin di awal-awal keberadaannya. Kami sering membacakan buku, mengaji dan mengajak janin berbicara. Mungkin terdengar berlebihan, tapi kami percaya suara dan sentuhan tidak langsung akan membuat ikatan calon orangtua dan calon bayi terjalin erat sejak dini.
Begitu bayi lahir, kesibukan itu bertambah mengasyikkan, karena kami bisa menunjukkan secara nyata hal-hal yang semula hanya dapat dibicarakan. Saya juga bisa memerlihatkan koleksi gambar-gambar lucu buatan sendiri, dengan warna-warna cerah dan bentuk sederhana.
Koleksi buku anak-anak segera kami bongkar, dan ditata sebagai perpustakaan mini bagi bayi kami. Pertimbangan saat itu, hanya agar mudah mencari alternatif buku lain.
SEGALA CARA MENGENALKAN BACAAN
Saat anak meningkat besar, apalagi jarak kelahiran anak pertama dan kedua cukup dekat (1 tahun 4 bulan), kami seperti punya “murid”. Hampir tak ada waktu terlewat tanpa mengenalkan bacaan kepada mereka. Buku-buku anak tersebar di tiap sudut rumah, bahkan menjadi “senjata ampuh” saat membujuk mereka agar berhenti menangis. Cara kami mengenalkan bacaan pun bermacam-macam, lewat dongeng, permainan gerak, cermin, musik, alam sekitar dan bahkan televisi.
1.Dongeng
Suami saya lebih jago mendongeng daripada saya, karena ia bisa membuat suara berbeda-beda. Diam-diam saya belajar sendiri memraktekkan suara-suara aneh sesuai karakter dalam sebuah dongeng. Tidak sebagus suami memang, tapi toh anak-anak saya tetap larut dalam dongeng saya. Kadang, dari buku yang sama kami bisa mendongeng dalam versi yang berbeda-beda. Jika anak-anak protes, kami memberi kesempatan mereka untuk mendongeng sesuai versi mereka.
2.Bermain Gerak
Anak kami nomor tiga dan empat beda lagi. Mereka tidak seantusias kakak-kakaknya saat ditunjukkan sebuah buku. Tapi kami terus mencoba mencari cara agar mereka berminat pada bacaan. Caranya dengan memraktekkan adegan yang sedang dibaca, hingga lama-kelamaan mereka meminta sendiri untuk dibacakan sebuah buku. Memang kemampuan linguistic mereka tidak seperti kakaknya, yang saat seusia mereka sudah mengenal huruf. Tapi tidak apa, tiap anak punya keunikan tersendiri.
3.Cermin
Saya pernah mendengar mitos yang melarang menunjukkan cermin pada bayi, karena dapat membuat mereka bingung. Tapi, saya menggunakan cermin untuk menunjukkan hal yang sedang kami lakukan, termasuk ketika membaca. Ekspresi wajah saya dan anak yang terpantul di cermin menjadi pertunjukan yang berarti.
4.Musik
Anak-anak kami punya banyak buku favorit, sesuai usia yang bertambah. Tetapi, yang sampai sekarang tidak hilang adalah, anak pertama dan kedua tidak melupakan buku favorit yang lama, saat mereka masih balita. Ada sebuah buku berbahan karton tebal, The Gingerbread Man (Kue Jahe) yang tiap kali saya bacakan untuk adik-adiknya yang masih balita, mereka ikut nimbrung melafalkan sajak yang terdapat di buku itu. Nadanya pun masih sama seperti dulu ketika saya bacakan untuk mereka. Untuk buku lainnya, kami membuat nada yang berbeda pula.
5.Alam Sekitar
Saya masih ingat, ketika kami menemukan seekor bunglon, suami saya datang membawakan buku ensiklopedia tentang binatang melata. Akhirnya, di teras belakang, kami menaruh bunglon itu di rumput, memerhatikan perubahan warna kulitnya, lalu mencari informasinya di buku. Lalu bunglon itu dipindahkan lagi ke tempat lain, supaya anak-anak lebih paham fenomena tersebut.
6.Televisi
Seringkali saat menonton fenomena alam di televisi, kami tunjukkan rujukannya dari buku-buku. Hingga anak-anak seperti mendapatkan “bukti otentik” dari hal yang dilihatnya. Karena arus globalisasi, agaknya sulit menghindarkan televisi dari anak-anak, maka kami memilih untuk ‘berdamai’. Saat anak-anak menonton sebuah tayangan kartun, saya tunjukkan buku yang memuat cerita bergambar kartun tersebut. Pelan-pelan perhatian mereka beralih ke buku. Juga, di sekitar TV saya simpan buku-buku, sehingga bukan pemandangan aneh lagi, saat anak kami membaca buku di depan televisi!***

Leave a Comment