MENGHAPUS STIGMA “SADIGO” DAN DICARI PEMUDA BANTEN

Posted by admin on June 21st, 2008 filed in I LoVE BanTEN

jawara.jpgOleh Gola Gong
Membaca tulisan DR. A. Mukhlis Yusuf : Kepemimpinan Berbasis Ruh dan Gagasan (Radar Banten, Wacana Publik, 6 Juni 2007) tentang pentingnya kepemimpinan berbasis ruh dan gagasan untuk menciptakan masyarakat Banten menjadi pembelajar, membuat saya tercenung. Bisakah itu diterapkan sementara cara berpikir pragmatis “sadigo” (salah dikit golok) masih menggejala di bumi Banten? Saya ingat dikala remaja (1980), hanya gara-gara ribut soal kecil, hampir jadi korban “sadigo”. Juga saat merintis pers lokal bernama “Banten Pos” (1993), saya diancam dengan pistol, agar menghentikan kegiatan jurnalistik saya.
KEARIFAN LOKAL
Dalam tulisannya, doktor muda di bidang strategyc marketing itu mengingatkan, betapa pentingnya bagi kita menggunakan medium lain di luar sekolah agar anak-anak Banten masa depan menjadi cerdas secara emosional dan spiritual. Dia berharap jika anak-anak masa depan Banten mau belajar dari lingkungannya, kelak akan tumbuh generasi yang lebih cedas, lebih bijak, dan lebih berbudi pekreti. Saya mendapat kesan, bahwa anak-anak muda Banten masa kini tidak lebih cerdas, tidak lebih bijak, dan tidak lebih berbudi pekreti. Berarti harus ditingkatkan kualitasnya. Untuk bisa menerima realitas yang disodorkan Mukhlis, tentu harus dibarengi dengan semangat menjadi genrasi pembelajar. Jika tidak, bisa-bisa “sadigo” mampir ke Mukhlis!

Mukhlis juga menyebut beberapa nama wong Banten, yang kini sedang mengambil PhD di Amerika. Pertanyaannya, apakah wong Banten yang belajar di luar negeri – jika didata mungkin bisa ratusan – setelah berhasil menggondol gelar intelektual berkehendak kembali ke Banten? Ini pertanyaan klasik. Sementara yang sudah mapan secara sosial dan ekonomi di luar Banten, tertarik kembali ke Banten ketika ada pesta Pilkada yang artinya “mereka tertarik karena ada magnit kekuasaan”. Sebut saja para calon gubernur Banten 2007 – 2012. Setelah kalah, mereka “hit and run”; kembali ke kota besar dan “melupakan” Banten.

Amien Rais, dalam “Soegeng Sarijadi Forum” di Banten TV menyodorkan gagasan yang membuat bulu kuduk berdiri. “Era SBJ dan JK serta saya berakhir di 2009. Kini eranya anak muda seperti Budiman Sujatmiko. Anak-anak muda interpartai, agama, dan suku harus berkumpul dan berani menyodorkan gagasan kepada kami tentang negeri ini. Gagasan kreatif yang harus berani mengatakan tidak kepada kekuatan elit global. Saya, Sogeng, bahkan SBJ – JK cukup jadi penasehat saja.”

Bisakah itu dianalogikan di Banten? Siapa tokoh muda popular di Banten yang memiliki kecerdasan emosi dan spiritual? Sangat sulit mencari figure pemuda Banten yang dekat dengan kearifan lokal; kiyai dan jawara, serta aksesorisnya seperti tidak mempan senjata tajam, menguasai ilmu bathin, kanuragan, dan memiliki pesantren.

Prof. Tihami dalam kata pengantar “Tasbih dan Golok” (Biro Humas Setda Provinsi Banten, Oktober 2005) menulis, kebudayaan Banten tidak bisa terlepas dari peran dan pengaruh dua kelompok masyarakat, yakni kiyai dan jawara. Meskipun kini kedua kelompok itu terkesan berbeda dan terpisah, tetapi dalam kesejarahan Banten keduanya memiliki kaitan yang erat. Kiyailah yang menciptakan jawara, pasukan yang menjaga keamanan lingkungan pondok pesantren; disebut juga tentarane kiyai. Seiring perkembangan social, kini jawara tumbuh menjadi subkultur yang dominan. Saat pemerintahan kolonial, jawara dicap sebagai biang keonaran. Masyarakat pun mencap mereka sebagai bercitra negatif, sekelompok orang yang sombong, kurang taat beribadah, dan mengedepankan kekerasan untuk kepentingan dirinya. Situasi dan kondisi negatif seperti itulah yang menyebabkan kiyai menjaga jarak terhadap jawara. Padahal sebetulnya banyak juga jawara yang baik dan berbudi luhur. Biasanya jawara model ini sekaligus berfungsi sebagai kiyai; memiliki pesantren dan padepokan silat. Opini negatif, bawa jawara identik denan kekrasan harus kita hilangkan.

PEMUDA PIONIR
Situasi dan kondisi kiyai yang menjauhi jawara, adalah salah satu yang menyebabkan Banten terpuruk juga. Lihatlah, pada Banten kekinian, kultur jawara yang sudah mengidentik dengan kekerasan, bermetamorfosa ke seluruh lapisan masyarakat. Prilaku yang mengedepankan kekerasan untuk mencapai kepentingan sendiri atau kelompok, langsung dicap sebagai prilaku jawara. “Geuslah, tong dilawan, dak! Etamah jawara! Kerok!” begitu sikap apatis mayarakat Banten, sehingga muncul “jurang pemisah” antara kecerdasan intekektual yang cenderung terkalahkan oleh kecerdasan phisik alias “sadigo” (salah dikik golok). Kiyai pun cenderung memilih berdiam di bilik santri, membiarkan anak-anak sosiologisnya gentayangan dengan cap negatif tersebut.

Lantas, siapa yang bisa merubah Banten menjadi manyarakat yang pembelajar, tidak lagi memakai cara berpikir pragmatis; salah dikit golok tadi? Ada seorang pemuda yang sering muncul di koran lokal di Banten yang secara sosial dan budaya begitu dekat dengan kearifan lokal Banten. Dia terlahir dari pemimpin yang khas Banten; jawara. Dia juga memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, karena tercatat alumni Ponpes Gintung, Balaraja, Tangerang. Ayahnya, TB. H. Aat Syafaat, yang identik dicap sebagai “jawara” terbukti bisa melestarikan kekuasaannya sebagai “pemimpin tradisi” menjadi “pemimpin modern”; sebagai walikota Cilegon. Iman juga mengikuti jejak ayahnya. Tentu pengaruh nama besar ayahnya serta uang, seorang Iman yang memiliki kecerdasan intelektual kini melenggang; dari seorang anak jawara menjadi birokrat. Dia juga menjadi pemimpin KNPI, yang notabene “kaki tangan” penguasa.

Sebetulnya, ada peluang bagi Iman untuk memimpin Banten di masa depan, jika dia hengkang dari lingkaran kekuasaan. Dia harus melepaskan jabatannya sebagai Ketua KNPI. Dia harus murni berpihak kepada rakyat tanpa didomplengi kepentingan penguasa. Sebagai anggota dewan, dia harus memosisikan sebagai tangan kanan rakyat, bukan kekuasaan. Dia harus memberikan contoh teladan, bahwa sebagai pemuda adalah pionir. Pemuda adalah orang yang menunjukkan jalan setapak menuju ke mata air. Pemuda adalah generasi pembelajar yang mempunyai komitmen tinggi yang akan membebaskan Banten dari kebodohan dan ketertinggalan tanpa mengandalkan otot, tapi otak. Kredo yang ditorehkan Toto ST Radik; asah penamu, simpan golokmu, saya kira patut diajukan untuk menggantikan motto Banten; Iman dan Taqwa.

Apakah Iman Ariyadi adalah cermin dari pemuda Banten masa kini? Deden Apryandi, ketua KNPI Serang, juga anak jawara; Maman Rizal, ketua TTKDH? Anak-anak jawara itu sebetulnya berpeluang merubah opini negatif jawara yang identik dengan kekerasan. Dengan latar belakang intelektual Iman dan Dede serta anak-anak kiyai dan jawara lainnya yang tidak terpublikasikan oleh media, peluang itu terbuka lebar. Mereka menguasai akses ke kekuasaan.

Jadi pertanyaannya, dengan paradigma pragmatis “sadigo” tadi, apakah berarti nasib Banten terletak di pundak pemuda Banten yang memiliki latar belakang kiyai dan jawara? Kenapa juga anak-anak muda Banten yang berpikiran maju dan bukan anak kiyai serta jawara, memilih tidak terjun ke kancah politik dan bagian dari kekuasaan? Saya mendengar langsung dari mulut Ali Nurdin, yang memilih kembali mengajar di kampus ketimbang aktif di parpol. Apakah karena dua hal tadi; bukan anak kiyai dan jawara yang notabene memiliki pengaruh penting di Banten, sehingga takut terkena “sadigo”? Atau juga ada anak kiyai dan jawara, yang memilih berjuang diluar kekuasaan, bahkan hengkang keluar Banten?

PEMUDA BERANI
Sebetulnya menjadi anak kiyai dan jawara bukan kesalahan genetik atau sejarah. Jika itu dimanfaatkan secara strategis, insya Allah akan membawa manfaat bagi warga Banten. Bung Karno pernah berkata, “Beri saya 1000 orang tua, maka saya akan memindahkan gunung Semeru. Tapi beri saya 100 pemuda yang cersdas dan berani, maka saya akan menggegerkan dunia!”

Nah, bisakah kita memaknai kalimat keramat Bung Karno itu? Adakah pemuda Banten; apakah dia anak atau bukan anak kiyai dan jawara, yang berani tampil untuk mewujudkan Banten yang jaya dengan komitmen tinggi memiliki keberpihakan kepada rakyat? Sehingga tidak akan ada lagi ucapan terlontar dari pejabat sekelas wakil bupati Serang; Andi Sujadi, yang mengatakan menu nasi aking itu sudah biasa bagi warga Kasunyatan, Serang. Ini terkait dengan sense of crisis seorang pemimpin.

Apakah Iman, Dede adalah realisasi dari mipi-mimpi jutaan pemuda Banten, yang mendambakan “Banten gemah ripah loh jinawi aman tentrem kertaraharja”? Saya secara pribadi sebetulnya meletakkan kejayaan Banten masa datang di pundak para anak kiyai dan jawara seperti Iman dan Dede atau yang lainnya yang belum saya kenal.

Lantas, seperti apa pemuda Banten yang berani? Mari mengucapkan bismillahirrahmnairrahim. Saya mencoba urun rembuk. Pertama, tentu dia harus berani melawan hegemoni jawara, yang sudah sangat kuat identik dengan kekerasan. Jika dia sendiri anak jawara plus kiyai, setidak-tidaknya dia memiliki prasayar utama; agamis sepreti kiyai dan memiliki ilmu-ilmu kejawaraan.

Kedua, seperti halnya Mukhlis mengutip Sinkula dan Baker, bahwa dibutuhkan komitmen sebagai prasyarat mutlak agar terbangun pembelajaran yang mengantarkannya kepada perubahan. Intinya, di Banten harus tumbuh generasi baru: masyarakat pembelajar! Akronim menakutkan seperti “sadigo”; salah dikit golok, harus segera dibuang jauh-jauh dan dan cukup jadi sejarah Banten saja!

Ketiga, generasi muda di Banten harus mulai memahami iklim kompetisi. Seperti halnya Amien Rais yang mengatakan, “Sekarang giliran Budiman Sujatmiko dan kawan-kawan”, maka anak-anak muda Banten sudah harus berani mengambil tongkat kepemimpinan dari generasi pendahulu seperti H. Chasan Shohib, Tryana Syam’un, Irsyad Djuwaeli, Muchtar Mandala, Tb. Aat Syafaat, Prof. DR. H. Yoyo Mulyana, M.Ed, Prof. DR. M.A. Tihami, Hasan Masduki, Rt. Atut Chosiyah, H.A. Taufik Nuriman, Surya Adhi Dharma. Jadikan mereka sebagai penasehat saja. Pengalaman mereka sangat berharga untuk bisa dijadikan tumpuan menjadi “Banten Bangkit”. Tapi, mereka jangan diberi peluang lagi untuk mempim Banten. Kata orang bijak, “Manusia yang sudah di atas 40 tahun, berarti sudah bukan anak zamannya lagi.” Berkompetisilah dan junjung nilai-nilai sportivitas seperti para atlet. Berjabat tanganlah kepada si pemenang. Maknai kekalahan sebagai bagian dari pembelajaran. Cara-cara “sadigo” untuk memuluskan kepentingan pribadi dan kelompok enyahkan jauh-jauh.

Beranikah pemuda seperti Iman, Dede, atau pemuda lainnya menggagas sebuah pertemuan pemuda Banten yang interagama, interpartai, dan intersuku, untuk menawarkan sebuah “grand design” Banten Bangkit kepada kita semua, yang tentu kepentingan rakyat diutamakan? Beranikah para pemuda Banten ini mengatakan kepada orang tua mereka, “Pak, sekarang giliran kami yang muda-muda!”

Keempat, memiliki pandangan jauh ke depan, bisa 10 atau 25 tahun. Caranya dengan melaukkan investasi di bidang pendidikan. Di Radar Banten pernah dimuat preistiwa pertemuan gubernur Banten dan Lampung, yang membicarakan kemungkinan pembangunan jembatan Selat Sunda seharga Rp. 100 trilyun rupiah! Itu sama saja dengan nilai 60 tahunan APBD Banten sebesar hamper 2 trilyun rupiah/tahun. Idealkah membangun jembatan itu sementara jalan-jalan dan sekolah di Banten masih banyak yang rusak? Ya, idealkah membangun jembatan Selat Sunda, sementara kata Ketua Forum Keaksaraan Banten, Nursalim, “Di Banten masih ada 230.000 warga yang buta aksara”?

PUSAT BELAJAR
Tentu menurut saya kurang ideal membagnun jembatan Selat Sunda, ketika sekolah dan jalan-jalan di Banten masih rusak. Ketika masyarakat Banten yang masih haus akan ilmu kesulitan mencari referensi buku. Kepada Pemuda Bantenlah, dimana kita menaruh harapan kepada mereka kelak, untuk memimpin Banten dengan kemampuan global dan memiliki cara pandang dunia (world view), bahwa paradigma “budaya berhitung” sudah usang dan tidak perlu dilestarikan. Kepada pemuda Bantenlah kita menaruh harapan, bahwa “budaya berpikir” harus dikembangkan agar bisa menuju “masyarakat pembelajar”.

Itu semua bisa terlaksana jika di Banten tersedia banyak buku. Itu bisa terwujud jika para pemuda banten mempunyai visi yang sama, bahwa buku adalah media penting untuk menghantarkan Banten menuju kejayaan seperti di era Sultan Ageng Tirtayasa dengan keberagaman penduduk dan agamanya serta teknologi pengairannya. Mantra sakti “gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis” (Babad Banten, pupuh XII) bisa diartikan sebagai cara pandang dunia tadi, yang mau menerima “bata’ (unsur lokal) dan “kawis” (karang unsur luar).

Maka sebuah keharusan, jika para pemuda Banten, apakah itu anak kiyai dan jawara atau bukan, yang duduk di pemerintahan, gedung dewan, atau kalangan professional sepakat, bahwa perpustakaan yang sekarang popular disebut pusat belajar, segera dibangun di pusat kota. Kalau perlu lantai 3. Ada ruang baca, ruang untuk berekspresi semisal gedung kesenian, ruang untuk pameran, serta ruang multimedia untuk komunikasi global.

Kawasan lama seperti alun-alun harus dikembalikan fungsinya sebagai pusat pendidikan, bukan pusat kegiatan ekonomi. Di pusat kotalah kelak harus dibangun gedung megah dimana kita bisa bercermin dan merasa bangga sebagai warga Banten. Namailah gedung megah iut sebagai “Banten Library: Syekh Nawawi Al Bantani” atau “Sultan Ageng Tirtayasa” atau nama lainnya, yang membuat kita merasa menjadi warga Banten yang beradab. Bukan lagi warga Banten yang selalu dicap oleh orang luar sebagai warga yang identik dengan kekerasan.

Anda termasuk pemuda yang berani memimpin Banten dengan gagasan yang saya uraikan di atas? Maka, marilah kita bergegas menjadi generasi muda pembelajar, agar muncul kriteria pemuda pemberani yang kelak memimpin Banten. Amien. Insya Allah. Sebagai penutup, saya kutip sebuah sajak:

BANTEN 2020

Aku menjadi Sultan Banten,
berdiri di bandar Karanghantu,
menanti putri cantik jadi permaesuri,
mas kawinnya Kaibon dan Tasik Kardi.

Aku menjadi Sultan Banten,
genderang perang kutabuhkan!
Batavia kutaklukkan jadi jajahan,
dendam pada sejarah terlunaskan!

Aku menjadi Sultan Banten,
kulintasi angkasa menuju negeri keju,
kukangkangi cucu-buyut penemu rodi,
Anyer-Panarukan tertoreh luka di hati!
Aku menjadi Sultan Banten,
tanpa rakyat dan istana.

***

*) Rumah Dunia, 6 Juni 2007
*) Tulisan ini sebagai bahan diskusi pada acara “Bedah Pemikiran dan Diskusi Publik” bertema “Menati Kepemimpinan Generasi Baru, Membangun Kepemimpinan Berbasis Gagasan’, Sabtu, 9 Juni 2007, di Ruang Pertemuan Radar Banten.

Leave a Comment