Di Balik Layar 10: SUMSUM BALADA SI ROY DAN AZETA

Posted by admin on June 17th, 2008 filed in BalaDA SI RoY

bsr-1.jpggg-tt.jpgOleh Gola Gong
Ada peristiwa unik yang berkaitan dengan novel serialku ini; Ballada Si Roy. Di Serang, banyak hal terjadi. Ternyata tidak semua orang tahu kalau “Gola Gong” itu adalah saya alias Heri Hendrayana Harris, yang kalau di Serang lebih dikenal sebagai jagoan badminton berlengan satu.  Pernah sebuah peristiwa unik terjadi. Di episode “Tomboy Surprise”, Roy mengajak teman kencannya; Ongky, makan nasi sum-sum di pasar Lama, Serang. Nasi sum-sum adalah makanan khas Serang. Dalam kenyataannya, saya memang sering makan di sana. Nama pemilik warung tenda sum-sum milik Pak Sururi.

Malam itu, saat saya makan nasi sum-sum bersama teman-teman dari gank Ulah Jazz dan Cipta Muda Banten (organisasi kepemudaan di Serang), kami ngalor ngidul ngomongin soal BSR. Bahkan menyinggung warung tenda nasi sum-sum ini. Tanpa saya sadari, pemilik nasi sum-sum ini menyimak setiap kalimat yang terlontar dari mulut kami. Akhirnya, dia menyetop obrolan kami. “Dari dulu saya sudah berjanji, jika bertemu dengan pengarang Balada Si Roy, yang bernama Gola Gong, saya akan membebaskan Gola Gong makan nasi sumsum selama sebulan. Dan malam ini, saya nggak nyangka kalau Gola Gong itu adalah Heri, yang jago badminton itu, yang sudah jadi langganan saya.”

Memang, hampir setiap week end saya makan nasi sum-sum di sini dan saya tidak pernah menceritakan profesi saya sesungguhnya. Untuk apa? Lebih baik saya banyak mendengar dari dia, karena itu bisa jadi sumber inspirasi saya. Pada malam itu pun, bukan saya yang memulai pembicaraan tentang Roy yang diceritakan makan nasi sum-sum di sini. Tapi, teman-teman saya. Akhirnya, setelah kejadian itu, saya mengurangi daftar kunjungan saya ke nasi sumsum. Kasihan juga kalau saya sering datang. Ada sekitar dua kesempatan saya datang ke sana. Dan dia betul-betul menepati janjinya, gratis! Setelah masa sebulan terlewati, saya rajin datang lagi dan membayar seperti biasa.

Belakangan saya baru tahu, bahwa banyak para pembaca Balada Si Roy, yang datang ke Serang selain ingin melihat latar tempat (setting) yang saa pakai, juga ingin mencicipi nasi sum-sum, yang juga dimakan tokoh “Roy” yang saya ciptakan.

Hal unik lainnya. Ini yang paling berkesan. Setelah Balada Si Roy melewati 13 episode dan mendapat respon yang cukup bagus dari pembaca, saya secara tidak sengaja bertemu dengan teman lama saya; Rys Revolta dan Toto ST Radik. Rys Revolta adalah teman pertama saya yang mengajak ke majalah HAI pada tahun 1981. Saat itu saya, Rys Revolta, dan Iman Nur Rosady, membolos dari SMAN 1 Serang hanya untuk menantarkan puisi dan laporan jurnalistik ke majalah HAI. Sedangkan Toto adalah pelaku seni di sekolah. Saya sering menyebutnya dalam hati sebagai “WS Rendra” atau “Putu Wijaya” kota Serang. Saya sering menonton dia membaca puisi di panggung-panggung kesenian sekolah. Kami satu sekolah di SMAN 1 Serang. Tapi Rys dan Toto setingkat di bawah saya.

Malam itu mereka sedang nongkrong di Royal – latar tempat yang juga saya pakai sebagai tempat nongkrong tokoh “
Roy”. Pada era 80 dan 90-an, tempat nongkrong strategis bagi anak muda di Serang, ya di Royal. Bagi kami, Royal memang tempat diskusi yang nyaman, seperti halnya seniman Yogya di jalanan Malioboro. Saya sering menghabiskan waktu sampai dini hari di sini, ngobrol dengan siapa saja. Pada awal-awal malam, biasanya teman mengobrol saya adalah para crossboy. Sesekali ada juga crossgirl. Agak malam dengan para jungkies. Larut malamnya dengan para preman. Dini hari, begadang dengan para abang becak. Banyak hal yang saya peroleh dari “sekolah” jalanan ini. Itu memperkaya batin saya dan makin memperkuat keyakinan, bahwa hidup menjadi berguna jauh lebih penting.

Pada malam itu Toto dan Rys sedang membicarakan tentang siapa “Gola Gong” dan “Balada Si Roy”. Teman-teman seniman di kota lain menuduh Toto-lah Gola Gong itu. Saya mendengarkan saja dulu. Setelah itu. Saya tanyakan kepada mereka, apakah masih menulis sajak?

“Saya butuh banyak sajak untuk pembuka di setiap episode ‘Balada Si Roy”!” kata saya. Dan mereka sangat kaget sekaligus senang. Pada malam itu juga, diskusi berpindah ke kamar saya di Komplek P&K, Palem 47, Serang 42118. Sampai larut kami diskusi. Rys dan Toto berjanji akan membantu saya menyediakan banyak puisi dan memberi masukan tntang episode-episode Balada Si Roy selanjutnya. Bahkan kami sepakat membentuk komunitas “AzetA”. Target pertama, membikin antoloji puisi “Jejak Tiga”.

Setelah mereka pulang, saya rebah di kasur, menatap langit-langit kamar. Obsesi saya ingin mencerdaskan anak mudfa Banten lewat jurnalistik, sastra, dan teater ternyata sama dengan Rys dan Toto. Saat itu saya makin bersemangat dan merasa tidak sendirian.


3 Responses to “Di Balik Layar 10: SUMSUM BALADA SI ROY DAN AZETA”

  1. kiri al-Kasemeni Says:

    …sebagaimana kebanyakan, jargonnya boleh juga. ‘Dengan kata kami mengenggam dunia’.
    Konkritnya saja–gak usah bicara muluk2, membahas terlalu jauh, apa yang sudah Anda lakukan untuk kami?

  2. warga dunia Says:

    Kasemeni..kalo bukan orang arab jangan sok pake al..ente gak bakalan diaku!
    Gak heran kalo di kasemen, banten lama banyak pengemis..
    hare gene masih ngeharepin orang ngasih..
    itu urusan orang mau ngasih gaknya..
    payah neh!

    salam kenal,
    warga dunia

  3. boedipoetra Says:

    Hehehhe.. al-Kasemeni, semoga kamu benr-bneer orang kasemen, Serang. Kalo ada waktu, datanglah ke Rumah Dunia, sehingga nanti bisa menemukan jawabannya sendiri. Konsep seperti apa yang diterapkan di Rumah Dunia. Salam persahabatam ya, sedulur sednaten.
    (gola Gong)

Leave a Comment