RUMAH DUNIA BUKAN KEINGINAN SATU MALAM

Posted by admin on June 16th, 2008 filed in JeJAK-jejAK RuMaH DunIA

awal-rd-2.jpgOleh Gola Gong

Rumah Dunia berulangtahun yang kelima? Tidak terasa. Saya ingat, pada ”Empat Pesta Rumah Dunia”, Maret 2006, saya memberikan pelatihan penulisan fiksi di Bali. Saat itu saya sudah berencana akan memberikan tongkat kepemimpinan ke Firman Venayaksa, relawan.Ini bagian dari proses pembelajaran dari grand design Rumah Dunia; Mencerdaskan dan Membentuk Generasi Baru di Banten.

rd-lama.jpgGEGER BANTEN - Ya. Waktu demikian cepat bergulir. Sekarang sudah tahun kelima. Menggelinding memasuki usia keenam. Berarti memulai ”repelita” (rencana pembangunan lima tahun) kedua; yaitu memulai regenerasi kepemimpinan di Rumah Dunia. Percepatannya harus lebih kencang, karena kini Rumah Dunia ditangani oleh anak-anak muda. Firman (Presiden) masih berumuh 26 tahun. Para relawan lainnya; Aji Setiakarya, Rimba Alangalang, Langlang Randhawa, dan Muhzen Den masih kuliah. Mereka dibawah usia 22 tahun. Seperti kata Bung Karno; Beri aku 10 pemuda yang sehat, cerdas, dan berani, maka aku akan menggegerkan dunia! Ini saya misalkan dengan para relawan Rumah Dunia yang serba muda; kuat, sehat, cerdas, dan berani, maka saya yakin mereka akan menggegerkan Banten. Ini penting. Anak-anak muda harus diberi ruang dan waktu untuk menggali potensi yang ada di tubuh dan pikirannya. Jika tidak, mereka akan tenggelam oleh banjir bandang tubuh dan pikiranya. Itu akan memprihatinkan. Saya muda pernah mengalami itu di era 80-an di Serang. Saya remaja tidak mendapatkan apa yang sekarang dapatkan oleh para relawan di Rumah Dunia. Saya cenderung hidup ”sendirian” di kota Serang yang dicap terbelakang oleh situasi politik pada masa itu. Serang (Banten) diidentikan dengan yang serba gelap; ilmu hitam, debus, pelet, jawara yang lebih mengedepankan otot kteimbang otak.

awal-rd-3.jpgSaya mengalami kesulitan jika ingin belajar jurnalistik, sastra, dan film pada masa itu. Para pemimpin di Serang tidak memiliki cita rasa seni. Toko buku, perpustakaan, dan kegiatan-kegiatan seni seperti pameran lukisan, pretunjukan teater nyaris tidak ada. Saya lebih memilih asyik menonton filnm-film nasional di dua bioskop; Merdeka di Royal (sekarang sudah jadi ruko) dan Pelita di Pasar Lama (sedang direnovasi jadi mall). Di dua bioskop itu juga saya meonton film kung fu dari Hongkong, film bermutu made in Hollywood, dan film porno dari Italy yang diperankan Edwin Fennech. Sesekali film India menyusup dan mengusik rasa keingintahuan saya tentang negeri itu (pada 1991 selama 3 bulan saya menyusuri India; dari Calcutta, Taj Mahal di Varanasi, New Delhi, Sikh di Amristhar, hingga Ganga di Varanasi).

Saya remaja sangat gelisah. Untuk mendapatkan buku-buku diluar teks pelajaran, harus ke Bandung dan Jakarta. Biasanya saya ke Pasar Senen, Jakarta, atau bursa buku bekas di Palasari, Bandung. Ketika kuliah di Fakultas Sastra (Indonesia) Unpad, Bandung (1982 – 85), saya merasakan surga. Setiap hari saya nongkrong di Tb. Gramedia, Jl. Merdeka, Bandung dan berangan-angan suatu saat kelak, buku-buku saya akan dipajang di rak buku dan dibeli orang. Di malam Minggu, saya nonton teater di Gedung Kesenian Rumantang Siang, Kosambi. Dan di sela-sela kuliah, saya mendengarkan musik di Jl. Naruipan (Yess) atau Jl. ABC (Monalisa). Uang saku bulanan saya habis untuk membeli buku, kaset (masih Rp. 1000,-/kaset), dan nonton film. Jalan Braga (lukisan dan Braga Stones), Naripan (kaset), Cikapundung (pasar loak), Palasari (buku bekas), Rumantang Siang (teater) adalah tempat plesiran rutin di Bandung.

KOTA MATI - Jika pulang ke Serang, saya menemukan kesepian yang luar. Sebuah kota tanpa estetika. Sebuah kota yang membosankan. Kota mati. Kota tidak berjiwa. Orang-orangnya tidak menjadikan seni sebagai bagian dari hidup. Jika sudah ”putus asa”, biasanya saya melarikan diri ke Banten Lama. Saya mencoba menyelami semangat para Sultan di Keraton Surosowan, Kesultanan Banten, yang dihancurkan Belanda, menerawang teluk Banten dari puncak menara mesjid Banten, menikmati irigasi dari Tasik Kardi hasil karya Sultan Ageng Tirtayasa, benteng Spelwijk, serta bandar Karanghantu yang pernah jaya tapi kini muram dan dangkal.

Saya mencoba memahami, kenapa kampung halaman saya yang bernama Banten ini begitu tertinggal, padahal jaraknya hanya 91 kilometer dengan Jakarta? Saya tumpahkan semuanya di buku harian. Saya menulis, menulis, dan menulis tentang kota saya yang tidak punya ruh. Saya mengambil kesimpulan sendiri, bahwa masyarakat Banten tidak gemar membaca. Apalagi menulis. Tidak ada diskusi-diskusi yang mencerahkan di kalangan intelektualnya. Jika saya membaca buku, tidak ada pengarang berasal dari Serang. Juga jika membaca karya fiksi di majalah (Femina, Gadis, Hai, Anita Cemerlang, Kartini) dan koran (Kompas), semua penulisnya dikuasai Jakarta, Yogya, Padang, Medan, dan Surabaya. Padahal dari Serang hanya dua jam perlajalan ke Jakarta! Saya hanya mendengar saja, bahwa Teguh Karya, Bing Slamet, Eros Jarot dan Slamet Raharjo, Bactiar Rivai, Ekky Sachrudin, Dorojatun Kuntjoro Djakti adalah orang Banten. Tapi mereka “melupakan” kampung halamannya. Kiprah mereka untuk memotivasi kami sebagai anak muda tidak ada. Ya, mereka “melupakan” kami: anak muda, pewaris sah Banten di masa datang. Atau tidak ada yang memotivasi mereka untuk pulang ke Serang.

Memang pernah ada zaman keemasan dulu, pada saat Banten jaya di abad 16. Tradisi menulis pun tumbuh di masa itu, ketika Syekh Nawawi Al-Bantani. Tapi, karena iklim budaya literasi dan diskusi tidak sehat, Nawawi hengkang ke Arab Saudi.

Tradisi membaca dan menulis mati di bumi Banten. Ada satu sanggar yang seting saya kunjungi, yaitu ”Sanggar Badak” persis di perempatan Pisang Mas. Tapi itu lebih mengkhususkan diri di seni rupa. Iklim diskusi pun mentok dan hanya berbicara tentang lukisan saja. Memang ada satu nama; Helmy (Helnos biasa saya memangil), tempat saya bertanya banyak hal tentang Jakarta. Dia adik pemilik ”Sanggar Badak”. Dia sering menunjukan kepada saya gambar-gambarnya (ilustrasi) di majalah Anita Cemerlang (majalah kumpulan cerpen populer). Dia bercerita tentang perkenalannya dengan para ilustrator Jakarta, yang gambar-gambarnya menyertai cerita-cerita pendek atau cerbung; NBC Sukma (Kartini), David, Si Jon (Gadis), Wedha (Hai), dan Suryadi (Anita Cemerlang). Saya menyerap proses kreatifnya. Bagi saya prestasinya cukup luar biasa. Ada yang masih saya ingat dari dia, ”Jika ingin maju, kamu harus menaklukan Jakarta!”

Di Serang, PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) sangat ekslusif ibarat menara gading. Koran ”Pikiran Rakyat” hanya memuat sekolom dua kolom tentang Banten. Padahal ayah teman-teman banyak yang korupsi. Kekayaaan mereka tidak sebanding dengan pekerjaan dan posisi mereka.. Kantor perwakilannya di jalan protokol tidak ramah. Para wartawannya tidak pernah menyelenggarakan ”diklat jurnalistik” bagi anak sekolah yang haus ilmu sepreti saya. Profesi wartawan seolah tidak tersentuh dan asing.

Perpustakaan kota Serang (UPTD) ibarat kamar mayat dan koleksi bukunya hingga sekarang tidak berubah. Malah keberadaannya sekaragn di taman K3 Ciceuri (dulu di alun-alun) dimanfaatkan oleh sebuah lembaga untuk tempat kursus dan pelatihan. Tradisi membaca dan menulisnya diabaikan. Menyedihkan, memang. Saya merasa tidak diperhatikan oleh mereka, para pembuat keputusan atau para pejabat terkait. Kami jadi generasi yang lemah. Sebuah kota tanpa toko buku, galeri, perpustakaan, gedung kesenian.

Otak kanan saya jadi mampet. Anak-anak muda seusia saya pada masa itu tidak kreatif. Ukuran kesuksesan mereka lebih pada nilai rapot yang berwarna biru, meraih titel sarjana, dan mendapat pekerjaan layak. Kebendaan seperti mobil dan motor juga jadi ukuran. Para orang tua kami pun termasuk yang tergesa-gesa ingin melihat anaknya sukses. Mereka tidak mementingkan, bhwa belajar memahami hidup jauh lebih penting dari sekedar hidup. Bagi saya, hidup bukan sekedar hidup, tapi bagaimana kita memaknainya.

MIMPI GILA - Keinginan untuk memajukan Banten mengendap diam-diam di benak saya. Anak-anak muda di Banten pada masa datang tidak boleh bernasib sama seperti saya. Masak untuk belajar jurnalistik, sastra, dan film saja mesti jungkir balik. Seperti kata Kahlil Gibran, perjalanan beribu-ribu mil, dimulai pada langkah pertama. Dan langkah saya adalam bermimpi pada masa itu. Saya tertarik dengan konsep gelanggang remaja yang dibikin Ali Sadikin (mantan Gubernur Dki di era 1970-an). Sebuah tempat pembelajaran bagi remaja yang terpusart di sebuah tempat; Taman Ismail Marzuki, gelanggang remaja Bulungan (Kebayoran baru) dan Brojosumantri (kuningan). Di Bandung tempatnya di jl. Merdeka.

Saya memimpikan gelanggang remaja ada di Serang! Saya berusaha keras mewujudkan. Sepulang melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia (saya menyebutnya sebagai perjalanan kreatif, 1985 - 87) dan Kobe, Jepang (menggondol medali emas badminton di Pesta Olahraga Cacat se-Asia Pasifik, 1989) saya mencoba membangun wadah organisasi anak muda bernama ”Cipta Muda Banten” bersama kawan-kawan semasa SMA (Roni, Toni Bule, Reni, Edi). Anak-anak sekolah kami bina dalam hal berorganisasi, mengelola pertunjukan seni, pementasan teater dan musik, serta lomba-lomba kreativitas (puisi, gambar, fashion, pidato, dan debat terbuka). Saya mulai mengenal secara dekat Toto ST Radik dan (alm) Rys Revolta. Kelak dua sahabat itu menemani saya terus dalam proses kreatif seni saya.

Ya, bersama Toto dan Rys, saya mendatangi sekolah-sekolah. Saya sudah bekerja di Gramedia (1989 – 1990) sebagai wartawan. Novel serial saya (Balada Si Roy) sukses. Uang berlimpah. Mumpung masih bujangan, penghasilan dari menulis saya subsidikan untuk kegiatan kesenian. ”Saya harus membangun gelanggang remaja di Serang!” begitu mimpi gila saya ketika pemerintah hanya diam mematung. Budaya berhitung di kepala mereka sangat kuat. Mereka lebih memetingkan dirinya ketimbang kami sbagai anak muda. Mereka tidak memedulikan, apakah anak muda seperti kami butuh perpustakaan atau gedung kesenian. Mereka tidak peduli. Mereka hanya mementingkan tahta dan harta. Itulah sebabnya, keinginan mendirikan tempat belajar bagi anak muda sangat kuat.

Saya yakin, dari mimpi pasti akan jadi kenyataan jika saya memiliki keinginan kuat untuk mewujudkannya. Begitulah juga dengan Rumah Dunia, yang merupakan keinginan saya sejak muda. Bukan keinginan saya dalam semalam. Berkacalah pada Sangkuriang, yang membangun mimpinya dalam semalam dan berujung pada kegagalan. Makna dari mitos itu, proses sangatlah penting. Janganlah kita terjebak pada sesuatu yang diseduh langsung dimakan. Sesuatu yang cepat saji tidaklah baik dan tidak akan lekang dimakan zaman. ***
*) Kampung Ciloang, 18 Maret 2007.*) Selamat ulang tahun yang kelima, Rumah Dunia! Semoga tetap di hati.


3 Responses to “RUMAH DUNIA BUKAN KEINGINAN SATU MALAM”

  1. kiri al-Kasemeni Says:

    …sebagaimana kebanyakan, jargonnya boleh juga. ‘Dengan kata kami mengenggam dunia’.
    Konkritnya saja–gak usah bicara muluk2, membahas terlalu jauh, apa yang sudah Anda lakukan untuk kami?

  2. Hafidz el-Pontangi Says:

    kiri al-Kasemeni,

    Bukankah kawan-kawan di RD sudah banyak bikin langkah kongkrit? Mereka tengah bergerak di ranah kesenian.. Anda sebaiknya melihat itu. Kita mestinya menyambut baik saja upaya mereka itu. Saya yakin kok niat mereka tulus. Gak ada jubah heroisme di sana. Mereka rendah hati. Gak usah sinis begitu deh.

    Salam

  3. Sancho Panza Says:

    kiri al-Kasemeni,

    itu kalimat Anda ada yang kurang: “…sebagaimana kebanyakan”. Kebanyakan apa sih? Kebanyakan minum, maksud Anda? Atau kebanyakan tidur? Ya sudah kalau gitu saya bangunin deh.. Hayo bangun, bangun, bangun…! Nanya kok gak jelas. Bikin saya yang di sini baca komentar Anda jadi puyeng dan pegang jidat lalu bilang: “chuaaaaave dech!” Cobalah perlihatkan kecerdasan Anda, sedikit saja, biar Kang Gong tertarik dan mau menjawab pertanyaan Anda.

    Salam

Leave a Comment