Di Balik Layar 7: PENGARANG BERLENGAN SATU

images.jpgimages-2.jpgTiba-tiba saya terhenyak, ketika membaca beberapa surat dari pembaca “Balada Si Roy” (BSR), yang mengatakan saya tidak mau tampil diwawancara di majalah HAI, karena tangan saya buntung. Surat-surat dari pembaca BSR berdatangan ke redaksi HAI dan dimuat di surat pembaca.

images-4.jpgimages-3.jpgMereka meminta agar HAI memuat profil saya sebagai pengarang BSR. Tapi saya menolak. Saya bukannya gila misteri seperti Pram menulis tentang tokoh Minke di novel ‘Bumi Manusia’. Saya hanya tidak ingin berurusan dengan hal-hal seperti itu saja. Saya hanya ingin menulis. Titik.

Tapi, ketika beberapa surat yang isinya menyindir saya seperti itu, saya berubah pikiran. Saya tidak ingin kecacatan saya dikait-kaitkan dengan perihal rendah diri atau minder. Hal ini sedang saya tulis di rubrik CERMIN majalah MATA BACA.Kelak akan dibukukan dengan judul “BORN – Langkah Itu Sudah Dimulai” (diterbitkan CAKRAWALA PUBLISHING). Di BORN dengan gambling saya tuiskan, kenapa saya bisa bertangan satu. Apakah kecacatan saya mempengaruhi pola berpikir saya.

Jujur saja, tentang kecacatan saya ini, belum pernah ada yang menuliskannya. Pengarang berlengan satu, itulah saya.. Tapi, saya tahu kok, bahwa saya bukanlah satu-satunya penulis cacat. Ratna Indraswari Ibrahim, malah lebih parah dari saya. Juga Stephanie, redaktur majalah ANEKA YESS. Pasti masih banyak lagi yang lainnya. Dan itu tidak jadi soal.

images-5.jpgTentantg kecacatan saya yang tidak pernah ditulis itu, saya tidak tahu, apakah para wartawan yang pernah mewawancarai saya itu takut saya tersinggung jika menuliskan itu atau memang tidak ‘ngeh’ bahwa lengan saya hanya satu. Atau malah itu bukan sesuatu yang penting. Entahlah. Jika ingat hal ini, selalu terngiang-ngiang kalimat Bapak saat kami pulang dari rumah sakit Cipto pada tahun 1971. Saat itu lengan kiri saya sebatas sikut diamputasi. “Bapak akan membuat orang-orang lupa, bahwa kamu itu berlengan satu!”

Omongan Bapak tidak isapan jempol. Dikenalkannya saya pada buku (B), olahraga (OR) dan nonton (N). Ketiga hal itulah yang membuat saya tidak rendah diri, bahkan cenderung lupa pada lengan kiri saya yang buntung. Saya menganggap hanya kehilangan beberapa kilo daging saja. Jasmani boleh saja cacat, tapi jiwa tidak. Hanya saja, saya tidak ingin membuktikan apa-apa pada orang non-cacat, karena bagaimnapun tentu mereka secara phisik lebih unggul. Saya harus realistis. Tapi, saya hanya ingin berkehidupan selayaknya orang yang tidak cacat hidup. Semua saya coba melakukannya. jika tidak sanggup, tidak ada salahnya meminta tolong. Untuk soal ini, sebaiknya menunggu buku ‘BORN” saya terbit saja pertengahan tahun ini. Atau membeli majalah MATABACA saja.

images-6.jpgAkhirnya, saya “terpaksa’ tampil di depan pembaca, bahwa saya “Gola Gong”, pengarang BSR. Peryamakali saya mengenalkan diri pada PESTA PELAJAR HAI 89 di SMA Bulungan, Jakarta Selatan. Saya sepanggung dengan Dede Yusuf (sedang naik daun dengan film “Jendela Rumah Kita’), Hilman “Lupus” Hariwijaya, Boim, Gusur, dan grup lawak Bagito (Didin, Miing, Unang). Saya tahu, orang-orang kaget dan tidak menyangka kalau saya berlengan satu. Tidak ada masalah.

Saya sudah terbiasa hidup dalam dua dunia. Jika saya sedang berjalan menyndang ransel sebagai bagpacker di muka umum, saat itulah saya memasuki dua alam pikiran manusia atau dua perspektif hidup. Jika orang-orang yang melihat saya dari sebelah kanan, mereka tidak akan mengira kalau tangan kiri saya buntung. Wajah mereka tersenyum seperti biasa. Apalagi cewek-ceweknya, beberapa ada yang mengerling dan menawari untuk mampir sejenak (hahaha, memangnya tukang roti!) Tapi, orang-orang yang berada di sisi kiri saya, saat itu langsung dihadapkan pada kenyataan, bahwa saya bagpacker berlengan satu! Wajah-wajah atau reaksi mereka sangat berbeda dengan dunia di sisi kanan saya! Palagi jika saat itu saya sedang menyetop truk! Supir truk yang dating dari sisi kanan saya, tentu tidak menyangka jika saya berlengan satu. Bagimana bisa dengan satu tangan naik ke bak truk! Tapi, saya bisa, tentu tidak segesit yang berlengan dua. Dengan kondisi ini, saya sih, 100% enjoy aja lagi!

Dalam BSR, saya mencoba mengupas sisi kecacatan ini, saat sahabat Roy, Toni, mengalami kecelakaan. Kaki Toni mesti diamputasi. Saya sering menemukan orang-orang yang patah semangat ketika mengalami kecacatan akibat kecelakaan lalu-lintas. Saya ingin membangkitkan mereka, bahwa kecacatan bukanlah ssebuah kiamat kehidupan! Maka lewat tokoh “Roy”, saya mencoba menyisipkan cerita tentang seorang bernama “Hendra”, yang notabene adalah saya sendiri sebagai pengarang. Juga sahabat Roy yang lain; Iwin, yang harus kehilangan satu telinga. Itu adalah kisah sejati dari adik kandung saya, yang mengalami kecelakaan lalu-lintas dan mesti kehilangan telinganya!

Nah, intinya, saya ingin gap psikologis antara orang cacat dan non cacat itu hilang. Tidak perlu ragu jika kamu melihat seseorang yang cacat, lalu kamu tanyakan, “Eh, kenapa tuh, tanganmu?” Saya yakin, mereka akan menjawab, “Iya, nih! Kecelakaan dari motor!” Enak ‘
kan!

***