Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi saya. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepada saya. Dengan segala hormat saya menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Saya sempat “dicemooh”, karena “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Saya adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Setelah saya jelaskan, bahwa saya menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada saya.
Bagi saya, penghargaan hanya signifikan dengan olahraga. Saya adalah seorang atlet badminton. Tujuan sejak awal sudah jelas, saya terjun ke kancah pertandingan badminton yang kompetitif dan penuh sportivitas untuk mengejar hadiah; bisa berupa piala, piagam, medali, serta sejumlah uang. Tapi, untuk urusan ibadah adalah moral. Tidak ada hubungannya dengan tujuan pengejaran hadiah; apakah itu award, piagam, sejumlah uang, atau hadiah.
Di cabang badminton, saya mengejar hadiah dengan bercucuran keringat dan berdarah-darah. Saya harus bangun pagi, lari bersama Bapak mengelilingi alun-alun
Waktu berdetak. Zaman berubah. Saya yang hobi membaca menyadari, bahwa olahraga tidak bisa diandalkan untuk hidup, beralih profesilah saya ke dunia tulis-menulis. Saya menyakini, bahwa profesi menulis sangat menjanjikan. Saya pernah menjadi penulis berita (wartawan), penulis scenario TV (script writer), dan penulis cerita fiksi (pengarang). Saya bahkan membuat komunitas buku bernama Rumah Dunia.
Kecintaan saya terhadap buku adalah persoalan moral. Bukan perlombaan seperti halnya dalam berolahraga. Saya tidak mengejar imbalan apa-apa, selain menjalani kewajiban saya sebagai seorang muslim, yang diperintahkan Allah SWT untuk berbagi; apakah itu harta atau ilmu. Kita tahu, hnya 3 perkara yang akan tersisa setelah kita mati nanti; yaitu amal jariyah, ilmu yang diamalkan, dan anak yang soleh. Itulah bekal kita kelak.
Setelah 5 tahun yang membangun Rumah Dunia bersama Tias Tatanka, dibantu para relawan, mulailah saya dihadpkan pada dilemma pemberian hadiah. Pertama, saya ditawari olleh KNPI Banten. Saya tolak. Terlalu politis. Kedua, Pemkab Serang pada 2004 membberi saya penghargaan. Sulit saya tolak, karena terkait dengan keberadaan Rumah Dunia. Apalagi ketika Emak campur tangan, bahwa semua demi kepentingan Rumah Dunia, agar terus melaju. “Pengakuan dari Pemerintah Daerah sangat penting,” kata Emak. Akhirnya saya terima. Terbukti, setelah itu Gubernur Bantn, Djoko Munandar, melakukan kunjungan resmi. Dinas tertkait seperti Dindik dan Perpusda Banten pun mujlai melirik.
Yang paling menyenangkan hati saya, adalah ketika saat Gramedia Book Fair 2006. Tanpa memberi penghargaan kepada saya, panitia menyerahkan bantuan uang tunai Rp 10 jt (dari BNI) dan buku senilai Rp. 10 jt (dari Gramedia) pula Lalu pada Islamic Book Fair 2007, ketika saya sakit, panitia menghubungi saya. Mereka bilang, saya masuknominasi untuk menerima penghargaaan. Saya menolak.
Saat IBF berlangsung, saya mendapat undagnan. Mereka memberi saya penghargaan sebagai “Tokoh Perbukuan”. Saya tetap menolak. Panitia memberikan banyak argumentasi, bahwa – lagi-lagi – ini untuk kemajuan Rumah Dunia. Saya harus bijaksana. Mereka menghrgai jerih payah saya. Tidak baik menolak kebaikan mereka. Ti9dak ada maksud politis di baliknya. Ny. Jusuf Kalla menyerahkan award dan uang Rp. 3 jt kepada saya,. Jujur saja, saat itu saya berpikir, “Saya sudah memenangkan kejuaran apa ini? Siapa yang sudah saya kalahkan?”
Menyusul Perpustakaan Nasional Republik
Sebetulnya bagi saya yang paling menyenangkan, adalah mengundang saya ke sebuah acara. Saya menjadi pembicara tentang bagaimna mengelola Rumah Dunia. Terutama bagaimana para relawan Rumah Dunia bekerja dengan ikhlas membesarkan Rumah Dunia. Tanpa mereka, Rumah Dunia tidak akan ada.
Paling gres adalah penghargaan “Anugrah Literasi World Book Day 2008” dari Komunitas Literasi


f | 09-May-08 at 7:40 am | Permalink
Aduhh..saya ga bisa ngucapin kata-kata Mas…Makasih banyak..anda salah satu orang yang berpengaruh dalam hidup saya…Tanpa Balada si Roy 1-9 saya rasa saya tidak akan menjadi seperti saya hari ini..sekali lagi..terima kasih banyak..suatu kehormatan bagi saya bisa berinteraksi dengan seorang maestro seperti anda.
Udo Yamin Majdi | 12-May-08 at 12:59 pm | Permalink
jujur saja kang, meskipun kita bertemu hanya beberapakali, dan tanpa banyak bicara, dari hati yang paling dalam, saya angkat topi dan perlu belajar banyak dari Akang. Menurut saya, memang sudah sepantasnya, Akang menerima penghargaan tersebut. mudah2an ini adalah “tabsyir” (kabar gembira) sebelum menerima penghargaan di surga nanti. amin