Posted by admin on May 4th, 2008 filed in
BalaDA SI RoY

Oleh Gola Gong
Di redaksi majalah HAI, saya bertemu dengan Hilman, Boim, dan Gusur. Juga dengan Adra P. Daniel. Cerita bersambung mereka dimuat di majalah HAI lebih dulu daripada saya. Mereka anak-anak muda, yang tidak berbeda dengan saya, ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Mbak Sri, sekretaris redaksi, memperkenalkan kami. “Oh, ini Gola Gong,” kata Hilman, tersenyum. Kami berjabatan tangan. Boim juga. Hilman memuji “Balada Si Roy”, yang baru muncul empat episode sudah menggebrak. “Sangat laki,” tambh Hilman. Saat itu Hilman yang tidak banyak bicara, masih kuliah di Uiversitas Pancasila, Boim yang hobi ngocol dan itemnya minta ampun, di STP (sekarang IISIP Lenteng Agung), Adra yang kemayu di IKIP Rawamangun. Gusur yang kalau bicara seperti pejabat kelurahan, tidak kuliah, sama seperti saya. Pertemuan yang menyenangkan dengan mereka. Saya merasakan, bahwa kai mempunya mimpi besar sama. Saaat itu mereka sedang pada puncak keemasan. Hilman, Boim, Gusur adalah ikon masjalah HAI. Mereka road show ke hampir seluruh provinsi di Indonesia, mengusung “pers abu-abu” dari sang big boss, Arswendo Atmowilo. Dari Boimlah saya memperoleh informasi tentang kos-kosan. Bahkan dia mengantar saya mencari kosan. Di Palmerah II, dekat SMA Santa Ursula dan SMA 16. Rumah Gusur juga di sekitar itu. Di dalam gang kecil. Ukuran kamarnya 3 kali 3 meter, seharaga Rp.75.000,-. Boim juga kos di
sana. Pemiliknya Betawi asli; mempunya 10 kamar. Untung masih ada yang kosong. Saya kebagian kamar paling ujung.
Hanya kamar kosong. Belum ada apa-apa. Seharian itu saya membereskan “istana” saya. Dinding batako sebelah selatan saya tempeli “wall paper” dari koran-koran ibukota. Lantai saya pel. Malamnya, saya kelelahan dengan sehelai tikar pinjaman dari pemilik kos. Belasan
surat dari pembaca “Balada Si Roy” saya baca. Menyenangkan sekali membaca surat-surat mereka; dari Jakarta, Solo, Yogya, bahkan ada yang dari Meda, dan Makasar. Rata-rata mereka menyukai tokoh “ Roy”, yang sangat berbeda dengan “Lupus”. Bagi mereka, “
Roy” seolah representasi dari kegelisahan jiwa muda mereka. Rata-rata dari mereka memyukai petualangan dan suka naik gunung. Surat-surat saya dekap dan saya biarkan menemani malam saya, yang sangat sensasional dan emosional. Kedua mata saya menatap dinding kamar sebelah selatan. Disana terpampang “wall paper” dari koran-koran. Berita-berita headlinenya menyerbu mata batin saya. Saya paling menyukai menatap huruf-huruf headline di surat kabar. Dari sana otak kiri dan otak kanan saya bekerja dengan cepat, bertindihan ingin berebut tempat. Malam itu saya punya banyak rencana. Tapi, mesin tik masih di tempat Herdi. Jika kalian pembaca balada Si Roy, di sana akan ditemukan tokoh “Edi”. Idenya, memang, dari personifikasi Herdi. Dalam keseharian, Herdi sering sekali “menasehati” saya, agar jangan terlalu sering meninggalkan Emak. Herdi sering tidur di rumah saya saat SMA dan dia anak asuh Emak.
Saya hanya merasa “shock” saja, karena mulai malam ini, di tahun 1988, saya menempati sebuah kamar, yang saya bayar dari keringat sendiri. Tidak lagi dari orangtua. Umur saya 25 tahun. Sudah cukup tua untuk disebut mandiri. Tapi, semuanya sesuai dengan rencana besar saya. Harus pelan-pelan dan tidak terburu-buru. Bagi saya yang tinggal di kampung, strategi dengan mengukur kemampuan diri, sangatlah penting. Saya datang ke Jakarta tidak ingin bernasib seperti kaum urban lainnya, yang jadi penonton di pinggir jalan. Saya ingin semuanya dengan perhitungan matang. Kalau ibarat pesilat, cukup sudah berguru di padepokan. Sekaranglah saatnya turun gunung untuk mengadu ilmu dengan pendekar dari perguruan lain. Analogi ini saya kenakan pada dunia kepenulisan. Saat itu saya merasa batin saya sudah cukup untuk menceburkan diri pada dunia kepenulisan.
Seperti yang dikatakan Ismail Marahimin dalam buku “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994:17), bahwa untuk dapat ‘menulis’ kita harus banyak ‘membaca’. Membaca adalah sarana utama menuju ke ktrampilan menulis. Membaca memberikan berbagai-bagai ‘tenaga dalam’, yang sangat dibutuhkan oleh penulis. Nah, saya pada saat itu, merasa memiliki ‘tenaga dalam’ yang sangat tinggi! Saya dalam keadaan siap tempur, berkompetisi dengan penulis-penulis lain. Tekad itu saya ikrarkan di kamar tiga kali tiga meter. Sangat beralasan, karena di majalah HAI; setiap terbit selalu muncul dua serial secara “head to head”. Saat pemunculan “Balada Si Roy” langsung berhadapan dengan “Lupus” yang ditulis Hilman. Serial “Lupus” ditempatkan di halaman awal, sedangkan “Balada Si Roy” di halaman belakang; serial nomor dua. . (bersambung ke bagian 7) ***
May 6th, 2008 at 3:32 am
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga jumpa mas Gong via blog
Insya allah sdh makin sehat ya Mas? Subhanallah, saya banyak belajar dari tulisan2 Mas yang ‘beredar’ selama ini, semoga bisa jadi tabungan amal di saat sakit begini ya Mas? Salam sayang utk mbak Tias dan anak2. Oya, alhamd wkt WBD di Museum Bank Mandiri sempat ngobrol dg teman RD, mdh2an semangatnya menular 