TUJUAN MENULIS, ISI TULISAN, BUKU HARIAN, DAN RISET
Posted by admin on April 25th, 2008 filed in TipsSudah puluhan kali saya jadi montir di bengkel-bengkel cerpen. Rata-rata para (calon) pengarang pemula kesulitan menemukan ide dan bingung saat menuliskannya. Begitu juga di kelas menulis Rumah Dunia, yang saya asuh di akhir pekan. Mereka berpikir, apakah kalimat pembukanya bagus atau cerpennya berjenis sastra atau populer.
ISI TULISAN
Ah, belum juga menulis, otak sudah dijejali hal remeh-temeh seperti itu. Padahal yang terpenting tujuan menulis itu untuk apa. Isi tulisan kita itu apa. Kalau di sastra islami yang diusung Forum Lingkar Pena, tujuannya bukan sekedar mendapatkan puji-pujian duniawi, tapi dakwah bil qalam. Kalau di kelas menulis Rumah Dunia: memerangi kebatilan dengan pena. Walaupun kata Asma Nadia, ”Jika mendapatkan penghargaan, itu adalah prestasi.” Tapi, itu tetap bukan tujuan utama kita. Saya sendiri menginginkan, setiap saya hendak menulis, kelak pembaca mendapatkan sesuatu yang berguna. Saya tidak akan egois bereksperimen untuk pencapaian nilai estetika belaka. Tapi, juga dampak positif dan negatif kepada pembaca. Jelas saya menghindari tulisan yang akan menimbulkan daya rangsang seksual luar biasa pada pembaca.
Eka Budianta, cerpenis dan penyair senior kita, mengingatkan di buku terbarunya ”Senyum untuk Calon Penulis” (Pustaka Alvabet, September 2005), bahwa setiap kita hendak menulis haruslah selalu ingat: mengapa kita menulis? Eka menegaskan niat hati dalam menentukan tujuan menulis adalah hal paling penting dalam menulis. Bukan kita dipusingkan oleh teknik, keindahan bahasa, plot, tetapi intinya. Isi cerpen, isi novel, isi puisi, itulah yang akan abadi dikenang pembaca.
HATI-PIKIRAN
Untuk para (calon) penulis pemula, tidak usah bingung dengan segala macam teori atau kaidah sastra. Ada dua tahapan yang harus kita lalui. Pertama, menuliskannya terlebih dahulu dengan hati. Setelah itu baru tahapan kedua, membacanya lagi dengan menggunakan pikiran. Segala macam teori menulis yang kita baca di buku-buku panduan bisa kita terapkan pada tahapan kedua ini.
Ya, menulis dengan hati adalah membiasakan diri kita menulis buku harian. Tumpahkan semua yang ada di hati kita. Jangan batasi gelombang kata-kata, biarkan saja itu (kata-kata) tumpah. Biarkan itu memenuhi baris demi baris di lembaran kertasmu. Jangan ada rasa takut. Kamu hanya perlu mengaturnya saja. Misalnya, apa yang akan kamu tulis. Hari ini kamu ingin menulis tentang sahabatmu, maka tuliskanlah.
Saya pernah mempunyai 2 karung buku harian, yang saya tulis sejak SMP hingga di universitas. Ini saya anggap bagian dari proses kreatif. Tapi, saya memperlakukan buku harian bukan sekedar ajang curhat, tapi media berekspresi. Tepatnya media melatih kepekaan panca indra. Sebagai (calon) pengarang pemula, siapa pun dia, harus terus berlatih menulis. Saat mendengar wilayah Kuta, Bali, dibom lagi, saya langsung menulis beberapa baris puisi: bunga mawarmu terkoyak/ini susu buat anak cucu/kematian di pasang di televisi/namamu tertera di sana: tertawa/stop! di Bali kami kembali/ini iklan nikmat sekali. Ini untuk melatih kepekaan panca indra kita.
RISET
Supaya tidak menghabiskan waktu, enerji, dan pikiran, tentu harus tahu apa yang hendak dituliskan. Ini terkait dengan ide yang sulit. Tapi, ada cara mudah menemukan ide, dengan riset. Bisa terjun ke lapangan (field research) melakukan observasi atau di rumah saja (desk research), membaca buku dan menjelajahi internet. Ini cara ampuh menemukan ide.
Sekedar contoh, suatu hari, saya terdampar di stasiun. Seorang anak penyemir sepatu menghampiri. Saya ingin menemukan ide, maka saya mempersilahkan anak itu menyemir sepatu saya. Kemudian metode jurnalistik dengan unsur berita (5W plus 1H; when, where, why, what, who, dan how) saya terapkan. Saya mengajak anak itu mengobrol ngalor-ngidul. Ini bagian dari riset lapangan.
Ada observasi dan wawancara.
Banyak hal saya peroleh di stasiun itu. Ketika ada waktu luang, saya menuliskannya di buku harian. Segalanya saya tumpahkan. Tentang si penyemir (who/siapa/karakter). Tentang stasiun dan keretanya (where/setting/latar tempat). Tentang orang-orang yang baru datang dan hendak pergi. Tentang para pedagang. Tentang apa saja, yang begitu melimpah ruah di stasiun. Itu melatih saya membiasakan diri menuliskan tentang suasana. Juga melatih diri kita untuk terus berempati dengan masayarakat di sekeliling. Bukankah pengrang itu juga tidak akan pernah terlepas dari peran sosialnya?
Setelah usai menuliskannya, di hari lain, saya membaca lagi buku harian. Nah, saat itulah saya menggunakan pikiran. Pakailah aturan-aturan seperti: 1) sinopsis, b) plot, c) karakter, d) konflik, dan e) ending. Coba pikirkan apa yang kamu tulis itu. Adakah di dalamnya terdapat sinopsis, kerangka ceritanya? Terasakah plot, alur ceritanya? Adakah karakter, para tokohnya yagn bisa kita kembangkan? Konfliknya, bagimana? Serta endingnya? Jika ada peluang, gunakan sayap-sayap imajinasi kita!
***
- Tips ini termasuk di buku JANGAN MAU GAK NULIS SEUMUR HIDUP karya Gola Gong, yang diterbitkan Penerbit Salamadani, Bandung, 2008

April 29th, 2008 at 4:47 am
trims bang, setelah membaca buku anda, saya mendapatkan tambahan ilmu penulisan. semoga bermanfaat.