DARAH SEGAR DARI ANYER, WORLD BOOK DAY 3, DAN METRO TV

Posted by admin on April 24th, 2008 filed in JurnAL RUmAH DunIA

Oleh Aji Setiakarya — Dimuat di Banten Raya Post Edisi Rabu, 23 April 2008–

Anak-anak adalah dunia yang membahagiakan. Masa yang penuh eksperimental dan memiliki imaginasi yang liar. Kami saksikan suasana itu pada Jum’at dan Sabtu (18-19/4) pagi lalu. Saat itu anak-anak dari TK Al-Muttaqien Kramatawatu, Serang, berkunjung ke Rumah Dunia (RD) untuk field trip. Ada sekitar 70 orang yang datang ke RD. Dengan beragam aktivitasnya mereka menguasi RD. Kami tentu saja kerepotan, dengan ulah mereka yang penuh sensasi itu. Ajat, anak Ciloang, pengurus TK dan Klab Bedrmain Jendral Kecil (JK) milik Gola Gong dan Tias Tatanka, yang sekarang menjadi relawan RD, sibuk menata panggung. Ia sibuk menyediakan kertas untuk anak-anaki yang mau menggambar tentang alam. Di tengah kesibukan itu, RG Kedung Kabang, tutor mendongeng yang redaktur Tablok Kaibon, datang mewarnai kegiatan mereka. RG Kedung menjadi perhatian mereka. Apalagi saat ia mulai membawakan materi dongengnya, menjadikan suaranya sendiri seperti bebek dan kucing, anak-anak terbahak liar.

Ibu Ning, pengajar Tk Al-Muttaqien mengatakan, kunjungan ke Rumah Dunia untuk memberi warna yang beda kepada ana-anak. “Di sinikan ada bajaj, mobile library. Ada out bond. Dan pemandangan lain yang tidak ada sekolah,” ungkap Ibu Cumcum, guru Al-Muttaqien lainnya. Kami senang bersama anak-anak ini. Anak-anak adalah salah satu potret yang keberadaan RD hingga sekarang.

Sorenya kami kedatangan 15 orang siswi dari SMAN Ciruas, Serang. Kedatangan mereka ke RD untuk menambah wawasan dunia kepenulisan, sastra, jurnalistik dan film. Par siswi itu bersemangat menanyakan cara awal bisa menulis, membuat artikel sampai dengan pembuatan buku. Firman Venayaksa, Presiden RD yang baru saja menyampaikan materi sastra di kelas menulis angkatan 11 langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Mereka adalah anak-anak SMA yang haus akan materi menulis. Di sekolahnya mereka belajar Bahasa Indonesia. Dari SD sampai dengan SMA ada pelajaran mengarang. Namun untuk menulis artikel saja mereka memang tidak bisa. Kita tidak bisa menyalahkan mereka. Sistem pendidikan kita memang yang seringkali salah kaprah dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Anak-anak itu sebenarnya memiliki semangat belajar. Hanya saja suasananya yang membuat mereka terkurung. Dan harus puas dengan teori di kelas saja.

DARAH SEGAR DARI ANYER
Kami di Rumah Dunia (RD) percaya jika kita harus belajar kepada siapa saja dan kemana saja. Satu sama lain memiliki kelebihan dan kekurangan. Dari sudut yang satu kita akan menemukan angle yang lain. Maka, teman-teman di RD didorong untuk bisa menggali informasi, memperkaya ilmu dan batin. Seperti pada Minggu (20/04) siang kemarin, dengan menggunakan motor operasional RD, saya dan Juned, relawan baru RD bergegas ke Anyer. Saya berkunjung ke tempatnya Bu Yayu dan Mbak Santi yang beberapa waktu lalu Ke RD untuk sharing cara pengelolaan perpustakaan.

Saat berkunjung ke Rumah Dunia Ibu Iyut, panggilan akrab ibu Yayu, bercerita tentang kondisi masyarakat Anyer khususnya di daerah sekitar rumahnya, Kampung Jambangan. Kepada Firman, Deden dan teman-teman RD yang lain Ibu Iyut yang asli Lahat, Sumatera Selatan dan besar di Jakarta ini mengungkapkan tertarik untuk mendirikan perpustakaan. “Agar mereka bisa merasakan membaca buku,” ungkapnya.

Saat sampai di sana saya seperti mendapatkanya darah segar. Aktivitas yang dilakukan Ibu Yut kepada warga Kampung Jambangan, Desa Bandulu nyata. Ia menyediakan pembuatan gerabah dan sejumlah keramik yang terbuat dari tanah Jambangan. Pekerjanya adalah warga sekitar yang memiliki kemuan tentu saja. “Awalnya mereka tidak bisa. Saya datangkan teman-teman dari Bandung untuk mengajari mereka,” ungkap Bu Iyut yang lulusan Seni Rupa Institu Teknologi Bandung (ITB) ini. “Awalnya memang susah,” kata Hedi warga Jambangan yang sedang membuat keramik di sini.

Belum selesai di situ, ia juga memanfaatkan masyarakat untuk mengumpulkan sampah dan mengolah sampah itu dijadikan pupuk kompos. Ia membawa saya ke tempat pembuatan pupuk kompos ini. Letaknya berhadap-hadapan dengan Marbella, bsebuah resort termewah di Pantai Anyer, Selat Sunda. Ada dua orang yang sedang bekerja di sini. Ujang dan To’i. “Awalnya tidak bisa mengolah sampah. Kita ngikutin pelatihan mereka,” ungkap Ujang yang asik memilah-milah sampah.

Pupuk kompos ini digunakan untuk tanaman hias yang ia jual di depan rumahnya. Yayu Nursery, nama tempat jualannya, persis bersebelahan dengan hotel Marabella. Ah, saya menemukan banyak inspirasi dari ibu ini. Meskipun usianya sudah sepuh, tapi semangatnya untuk berbagi dan mengembangkan masyarakat Jambang patut diacungkan jempol.

Selain ke tempat pembuatan pupuk kompos dan pembuatan keramik, ia juga membawa saya ke sebuah bangunan rumah yang kokoh. Ah, di rumah inilah saya menemukan anak-anak sedang asyik memainkan kerayonnya. Ada sekitar tujuh anak yang sedang bergabung membuat lukisan di atas meja yang bagus itu. “Ini yang akan saya buat perpustakaan,” ungkap Bu Iyut. Disini Ibu Iyu di bantu oleh Ana, siswi kelas 3 SMP 1 Anyer. “Sudah tiga bulan di sini kang,” ungkap Ana. Ah, saya sungguh bahagia. Di sini terdapat tiga lemari buku. Dan empat meja melingkar yang terbuat dari kayu yang kuat. Tempatnya memang masih sempit. Tapi Bu Iyut berniat menambah lokasi dan koleksi bukunya. “Makanya kami pengen sharing dengan teman-teman di RD,” kata Pak Asep yang selama ini membantu Ibu Iyut. Menyaksikan riang wajah anak-anak itu dan guratan wajah bu Iyut saya mendapatkan darah segar. Semangat baru. Ah, semakin banyak teman. Seperti yang sering Gola Gong katakan, kita tidak sendirian.

WBD DAN METRO TV
Kesibukan lain yang tengah kami songsong adalah event World Book Day (WBD). Event tahunan yang bakal di gelar di Meseum Bank Mandiri. Seperti yang saya singgung, sebelumnya ini adalah event yang ke-3. Dan sejak awal RD mengikutinya. Berbagai acara akan digelar pada acara ini dari nonton film sampai bedah buku dan temu pengarang. RD sendiri akan meluncurkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) sepuluh penulis RD berjudul “Cinta dan Lelaki Peluru” (Penerbit Tiga Serangkai, Solo). Selain itu RD juga akan menggelar nonton bareng film-film RD di stan RD.

Bagi teman-teman di Jakarta yang mau melihat lebih jauh tentang RD, datang saja ke stand kami di World Book Day 2008. Tohir dan relawan Rumah Dunia dan Roji, kelas menulis angkatan 11 akan menjadi pelayan di sana. Di tengah kesibukan menyiapkan Wordl Book Day, Lina, creative PADAMU NEGERI menelpon kami mengajak teman-teman RD bergabung untuk mendiskusikan larangan lagu SLANK yang hendak di cekal oleh DPR dalam acara PADAMU NEGERI. Kami merasa berbahagia. Kami langsung meresponnya. Apalagi anak-anak kelas menulis sedang belajar jurnalistik televisi. Semoga saja bermanfaat.

*) Aji Setiakarya, Sekretaris Jendral Rumah Dunia
Studi di Ilmu Komunikasi Untirta Serang

Leave a Comment