Di Balik Layar 3: MAKNA FILOSOFIS NAMA “GOLA GONG”

Posted by admin on April 23rd, 2008 filed in BalaDA SI RoY

Saya pulang ke Serang. Saya ceritakan semuanya pada Bapak dan Emak serta saudara. Saya merasa optimis, tapi Bapak mengingatkan, jangan terlalu banyak berharap, karena kalau tidak kesampaian bisa kecewa. Bapak malah menyarankan agar saya meneruskan kuliah lagi. “Kalau perlu kuliah di Serang saja, di Untirta!”  Saya tetap menolak. Saya mengurung diri lagi di kamar. Tak, tik, tuk….. bunyi mesin ketik memenuhi kamarku. Saya menyelesaikan lagi episode lanjutan “Balada Si Roy” sebanyak tujuh lagi. Jumlah seluruhnya 11 episode. Dan pada hari yang dijanjikan, saya berangkat ke majalah HAI. Kali ini saya tidak memakai tangan palsu. Sengaja. Saya sangat optimis, bahwa “Balada Si Roy” pasti akan diterima.  Di lobi gedung KOMPAS, walau agak sedikit menarik perhatian, saya dipersilahkan naik ke lantai 2 oleh security. Tidak ada masalah apa-apa. Tapi, saya mesti menunggu agak lama di ruang redaksi HAI. Orang-orang (redaksi HAI) lalu lalang dan melirik ke saya. Mungkin pikir mereka, “Ini pendekar tangan satu dari mana?” Saya tersenyum saja.  Tiba-tiba seorang lelaki (saya mengenalnya kemudian sebagai Mas Wedha – ilustrator HAI) melihat saya. Dia memperhatikan saya. Tentu saja saya mengenal dia. Kata Mas Wedha, “Kayaknya saya mengenal kamu. Tapi, dimana?” Mas Wedha mengingat-ingat. “Oh, ya! Kamu yang menulis ‘Balada Si Roy’, ya!” Dia meneliti wajah saya dengan seksama.   Saya mengangguk senang. Ini alamat baik. Apa saya bilang! Pasti diterima!  “Saya disuruh membuat ilustrasinya!” kata Wedha memperhatikan tangan kiri saya yang buntung sebatas sikut. “Lho, kok? Kemarin, perasaan tidak…”  Saya ceritakan, bahwa kedatangan saya ke sini dulu memakai tangan palsu. ‘Nyenengin Emak, Mas!”  Mas Wedha mengajak saya masuk ke redaksi. Dia memperkenalkan saya ke seluruh redaksi sebagai penulis “Balada Si Roy”. Semua menatap saya. Mbak Retno juga menatap saya dengan heran. Lalu saya dibawa ke Mas Wendo. Saya duduk di depannya. Mas Wendo memuji “Balada Si Roy”. Saya tentu saja sengang. Novel-novel Mas Wendo memenuhi rak buku saya.  “Maret 1988 serial ‘Balada Si Roy’ akan kami muat,” kata Mbak Retno. “sebaiknya kamu nyari nama pena, deh!”  Uuuh, betapa membuncahnya dada saya. Betapa menggelegaknya hati saya. Sepanjang perjalanan pulang Palmerah – Serang, darah saya mendidih. Saya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan memeluk Bapak serta Emak, bahwa “Balada Si Roy” akan dimuat di HAI! Karya cerita fiksi saya goal!  Tiba di rumah, saya bercerita dengan semangat. Emak dan saudara-saudara saya tentu saja gembira. Tapi Bapaklah – lagi-lagi – yang tidak pernah sepaham. Kata Bapak, “Jangan senang dulu. Siapa tahu nanti mereka berubah pikiran. Kalau nanti sudah jelas dimuat di majalah, baru kamu boleh senang.”  Saya memaklumi kekhawatiran Bapak. Lalu saat makan malam, saya ceritakan tentang nama pena. Semua mengusulkan nama pena. “Chebing Chekov!” kata Goozal, adik lelaki saya. “Siki Nangka saja!” kata adik perempuan saya. Belum ada yang cocok. Saya sholat istikharah. Mencoba-coba mencari petunjuk.  Saat sarapan pagi saya menemukan nama pena: GOAL GONG. Ini artinya “goal” itu karya saya masuk, seperti bola masuk ke gawang lawan. Dan “gong” berarti karya saya semoga saja bunyinya bisa menggema seperti bunyi alat musik gong. Emak setuju. Beliau mengingatkan saya, “Kesuksesan yang kamu raih itu tanpa ridho Allah tidak mungkin terjadi!”  Saya terpekur dengan kalimat Emak ini. Tanpa ridho Allah, tanpa ridho Allah semuanya sia-sia! Saya terinspirasi. Allah berarti “a”, berarti “yang pertama”, bisa juga “alif”. Lalu saya corat-coret lagi. “Bagaimana kalau GOL A GONG. Maksudnya di antara “gol” dan “gong” itu dijembatani oleh Allah. Tapi, masih belum enak. Akhirnya jadilah “Gola Gong”, dimana maknanya adalah “kesuksesan itu semuanya berasal dari Allah” 


One Response to “Di Balik Layar 3: MAKNA FILOSOFIS NAMA “GOLA GONG””

  1. iin Says:

    mas, aku dulu penggemar balada si roy, pas masih sma, bela-belain nyisihin uang jajan buat beli majalah HAI. aku lebih suka cerita yg di majalah hai ketimbang filmnya, lebih seru dan ketawanya bisa puas banget, atau yg udah jadi novelnya. aku baca juga ttg rumah dunia, ok banget, pengen ada tempat seperti itu yg gratis buat anak2 aku juga anak2 lain. aku pengen punya perpustakaan buat anak2 tp gak ada dana buat beli buku2, paling juga aku masih ada koleksi majalah donal aja, emang bener mas, dari kebiasaan orang tua mendongen akan menjadikan anaknya suka membaca dan paling enggak kalo di sekolah ada pelajaran mengarang enggak bengong, banyak imajinasi yang bisa ditulis. selamat berkarya terus dan salam buat keluarga.

    iin - bandung

Leave a Comment