REFLEKSI ENAM TAHUN RUMAH DUNIA
Posted by admin on April 20th, 2008 filed in JurnAL RUmAH DunIAOleh Firman Venayaksa
“Rumahku Rumah Dunia, Kubangun dengan kata-kata.” (Prasasti, 1996 - 200)
Waktu itu, sekitar lima tahun ke belakang, saya menjambangi sebuah rumah seorang penulis. Persis di depan rumah itu, saya menemukan kata-kata di atas. Dari kata-kata yang dituliskan tersebut, saya sudah pasti yakin bahwa inilah penulis yang saya cari. Perjumpaan saya dengan Gola Gong untuk kedua kalinya itu memberi kesan yang cukup dalam. Saya diajak ke belakang rumahnya, dan hadirlah beberapa orang dengan wajah sumringah dan penuh harapan seperti Endang Rukmana, Adkhilni, Ibnu Adam Aviciena, Qizink, dkk. Mereka adalah Kelas Menulis Angkatan pertama yang sebagian besar sudah sukses meraih predikat sebagai penulis.
Tempat yang diproklamirkan sebagai “Rumah Dunia” itu kecil saja. Hanya ada dua gardu kecil beratapkan rumbia dengan buku-buku yang begitu terbatas. Namun ada pikiran yang tak berbatas, harapan yang melangit dan semangat yang meradang ketika Gola Gong tiba-tiba mengajak saya untuk bergabung-aktif di RD. Ketika itu saya sedang mencari “sesuatu.”. Sehabis empat tahun mengasah pikiran untuk menyelesaikan kuliah, seperti “Sajak Seonggok Jagung” yang dituliskan oleh WS Rendra, saya menjadi sarjana limbung yang tak tahu hendak ke mana, terasing di kampung sendiri dan menjadi sastrawan yang kehilangan alamat. Lamaran itu pun tak bisa saya tampik. Akhirnya hari demi hari kian lekat saya dengan tempat itu, berbagi harap dengan bocah-bocah Ciloang, berbagi suka-duka dengan para relawan.
Lalu waktupun kian bergulir. Gola Gong dan Toto ST Radik tetap semangat mentransfer ilmunya dan menjaga agar orang-orang muda yang penuh harapan itu terjaga idealismenya. Kami pun penuh sadar bahwa apa yang dilakukan oleh RD adalah sebagai madrasah kebudayaan, menjadi dian kecil di tengah gulita. Jika idealisme tidak dijaga, maka komitmenpun akan sirna. Dengan motto membentuk dan mencerdaskan generasi baru, para penggiat RD terus berbenah dan mengajak semua pihak untuk bekerjasama. Hingga akhirnya Gola membeli lagi tanah seluas 500 meter persegi dari royalti novel tgriloginya; Pada-Mu Aku Bersimpuh., kemudian RCTI peduli membantu dana sebesar Rp. 15 jt untuk pembangunan tahap pertama panggung terbuka, mushola dan bangunan terbuka lainnya yang sekarang jadi perpustakaan surosowan. Saat itu luas RD jadi 1000 meter persegi persis di belakang rumah Gola Gong. Dengan tempat yang lebih luas, RD menjadi lebih leluasa.
Kini RD sudah sampai pada titik ke enam. Sebagai sebuah komunitas literasi yang cair, para relawanpun datang silih berganti. Namun ada hal yang tak pernah berubah yaitu persoalan komitmen. Gola Gong, Toto ST Radik, Tias Tatanka, (alm) Rys Revolta sebagai pendiri komunitas ini terus berupaya untuk menebarkan lilin-lilin peradaban. Pada titik keenam ini sayapun didaulat memegang tongkat estafet menjadi Presiden RD, sebuah amanah yang tentu saja cukup berat dipikul jika tak bersama-sama. Jika dulu Gola Gong cs mencoba untuk “menghajar” para pemegang kebijakan dengan tulisan-tulisan yang tajam dan keras di beberapa surat kabar, mendiskusikan hal ikhwal yang menyimpang dari kebenaran, menggedor setiap pintu-pintu hati yang tertutup, kini RD lebih mencoba untuk bekerjasama dengan pelbagai pihak agar komitmen itu menjadi konvensi bersama. Dengan relawan edisi berikut seperti Aji Setakarya, Muhzen Den, Roy, alwi dan Oki, RD terus bergerak kendati kadang tertatih dan melelahkan.
Rupanya komitmen itu memang telah akrab di telinga orang-orang Banten. Secara individu maupun institusi, RD sering diberikan kepercayaan untuk mengelola pelbagai hal, mulai dari finansial, buku-buku, kerjasama kegiatan, hingga dipercaya untuk mengelola mobil library. Usaha yang dilakukan oleh para pendiri RD sepertinya mulai berhasil menembok dinding-dinding kepercayaan yang kokoh. Hampir semua stasiun televisi pernah meliput kegiatan RD, begitupun media surat kabar. Hal ini selain menjadi kekuatan untuk terus menginformasikan kepada khalayak tentang apa yang kami kerjakan, tentu saja menjadikan pula cambuk agar RD terus berupaya membuat terobosan-terobosan baru.
Ada satu hal yang perlu juga saya singgung di sini. Banyak orang yang bertanya kepada saya maupun relawan lain perihal keuangan dan dapat donor dari mana sehingga RD terus eksis? Walaupun terasa mual dengan pertanyaan ini, sepertinya RD harus menegaskan kembali bahwa ini persoalan komitmen! Tak ada seorangpun para pengelola RD yang digaji seperti pekerja buruh misalnya. RD bekerja dengan hati. Persoalan imbalan sepertinya tak hanya uang bukan? Dan yang ingin lebih saya tegaskan adalah donor keuangan tidak pernah kami dapatkan dari orang-orang nakal atau subsidi dari lembaga hebat.
Membangun sebuah kebudayaan yang berbasis literasi memang tidak mudah, tetapi itu adalah cita-cita semua orang agar bisa bersejajar dengan siapapun.
*) Penulis adalah Presiden Rumah Dunia

Leave a Comment