April 2008

ALHAMDULILLAH, MAS GOLA GONG PULANG

gg.jpgalhamdulillah ya rabb… mas gola gong sudah boleh pulang, sabtu, 26 april. memang, belum sembuh total, tapi menuju perbaikan. hasil rontgen terakhir, saraf di lumbar 5 - tulsg punggung, masih kejepit. akibatnya kaki kiri masih kesemutan. tapi kata dokter, sudah membaik. dikurangi saja aktivitasnya. jangan naek turun tangga. berarti mas gong belum boleh bekerja, terutama untuk urusan dengan kantor yang nggak ada liftnya. sedangkan di cervical alias leher, dari 3 titik  yang kejepit, 1 titik sudah merenggang. kata mas gong, tidur sudah mulai nyenyak. tapi tangan masih suka kesemujtan. collar neck mesti terus dipakai. makanya kalo pulang, mas gong dilarang pegang hp, apalagi maen sms-an. segala urusan komunikasi lewat hp saya tangani dulu. yang penting kerinduan kami berkumpul utuh terwujud. hanya saja, setgiap akhir bulan, mas gong harus rfawat inap seminggu di rs holistik untuk rawat jalan alias kontrol. terapi2 ditgeruskan supaya saraf di lumbar sembuh. sedangkan di serang selama 3 minggu mas gong akan terapi yang ada, misalnya terapi di kolam renang, air panasd di batu kuwung banten selatan, akupuntur di cilegon, serta pola makan ala holistik. terima kasih buat temen-temen yang udah mensupport mas gong ya. allah sing mbales… (foto: mas gong dengan asdik soepardu dan mas teguh es ha, tias tatanka)

CurHAT

Comments (9)

Permalink

TUJUAN MENULIS, ISI TULISAN, BUKU HARIAN, DAN RISET

ngetik-com.jpgbuku-baru-gg.jpgOleh Gola Gong

Sudah puluhan kali saya jadi montir di bengkel-bengkel cerpen. Rata-rata para (calon) pengarang pemula kesulitan menemukan ide dan bingung saat menuliskannya. Begitu juga di kelas menulis Rumah Dunia, yang saya asuh di akhir pekan. Mereka berpikir, apakah kalimat pembukanya bagus atau cerpennya berjenis sastra atau populer. Continue Reading »

Tips

Comments (1)

Permalink

Di Balik Layar 4: HONOR PERTAMA BALADA SI ROY

Oleh Gola Gong

Menunggu dari bulan Desember 1987 ke Maret 1988 sangatlah lama. Hari-hari saya habiskan dengan terus membaca, melakukan travelling kecil-kecilan di Banten; ke Banten Lama (10 Km utara Serang), ke Baduy, atau ke pantai Anyer. Otak kanan saya setiap hari harus terus mengembara. Fantasi saya harus terus terjaga.  Setiap malam saya membacai “buku harian” atau sketsa-sktesa pendek yang saya tulis di dalam perjalanan. Seru, seru! Saat saya menyusuri Bali (1986), Nusa Tenggara (1986), Timor Timur (1987), atau Sulawesi (1987). Juga yang paling seru; menyusuri pulau Seram (1986) selama 1 bulan. Dari ujung baratnya; Amahai, ke ujung timur; pulau Geser! Naik perahu kayu ke Fak Fak. Dan berkenalan dengan orang-orang dari suku Dani di pegunungan Jayawijaya. Alangkah indahnya! Banyak, banyak peristiwa yang bisa saya tuangkan ke dalam fiksi (baca “Tips: Dari Peristiwa ke Fiksi”).   Continue Reading »

BalaDA SI RoY

Comments (0)

Permalink

LEARNING FOR CHILDREN

BY: Gola Gong – Translated by Wawan Husin

Dinner time, Thursday night, dated June, 14, 2007. Bella my eldest daughter shouted proudly happily “Dad, I got total 100 for Maths. The materials from the Diknas”. My wife, Tyas, checked the headmistress of her saying. “Yes, she got 100 for Maths. It is the highest among her schoolmates!” said kata Rahmiani Batubara, the head mistress. At her school, SD Peradaban, Serang – the school applies the multiple intelligence which is issued and pioneered by Howard Gardner - the resources of materials for the lesons are two kinds. First, school-based materials and the other are materials from Diknas. Continue Reading »

Essays

Comments (0)

Permalink

DARAH SEGAR DARI ANYER, WORLD BOOK DAY 3, DAN METRO TV

Oleh Aji Setiakarya — Dimuat di Banten Raya Post Edisi Rabu, 23 April 2008–

Anak-anak adalah dunia yang membahagiakan. Masa yang penuh eksperimental dan memiliki imaginasi yang liar. Kami saksikan suasana itu pada Jum’at dan Sabtu (18-19/4) pagi lalu. Saat itu anak-anak dari TK Al-Muttaqien Kramatawatu, Serang, berkunjung ke Rumah Dunia (RD) untuk field trip. Ada sekitar 70 orang yang datang ke RD. Dengan beragam aktivitasnya mereka menguasi RD. Kami tentu saja kerepotan, dengan ulah mereka yang penuh sensasi itu. Ajat, anak Ciloang, pengurus TK dan Klab Bedrmain Jendral Kecil (JK) milik Gola Gong dan Tias Tatanka, yang sekarang menjadi relawan RD, sibuk menata panggung. Ia sibuk menyediakan kertas untuk anak-anaki yang mau menggambar tentang alam. Di tengah kesibukan itu, RG Kedung Kabang, tutor mendongeng yang redaktur Tablok Kaibon, datang mewarnai kegiatan mereka. RG Kedung menjadi perhatian mereka. Apalagi saat ia mulai membawakan materi dongengnya, menjadikan suaranya sendiri seperti bebek dan kucing, anak-anak terbahak liar. Continue Reading »

JurnAL RUmAH DunIA

Comments (0)

Permalink

REMAJA SEKARANG BUKAN PRODUK INDONESIA

Oleh Abdul Azis, Sosok dan Sketsa, Koran Jurnal Nasional, Jakarta, Rabu, 16 April 2008

Nama Heri Hendrayana Harris, mungkin tidak akrab di jagat kognisi kita. Tapi ketika lelaki itu kita “samarkan” dengan nama Gola Gong, kita mengenalnya sebagai sastrawan produktif dan serbabisa. Ia seorang penyair, cerpenis, novelis, penulis skrip. Continue Reading »

Cliping

Comments (1)

Permalink

KABAR MAS GOLA GONG TERBARU

ass. wr wb.
sebelumnya, terima kasih pada semua pihak yang telah memberi support dan ribuan doa buat mas gong. semoga Allah swt melipatgandakan pahala dari amal baik saudara semua. semoga pula kita senantiasa berada dalam lindungan dan ridla-Nya. saya dan mas gong sangat merasakan betapa ajaib kasih sayang-Nya. doa-doa kami seperti mantra yang segera dikabulkan. subhanallah… rasanya ingin Kau selalu sedekat urat leher kami, Ya Rabb…

Continue Reading »

CurHAT

Comments (1)

Permalink

MENGAJAK ANAK MENJELAJAH DUNIA BARU

goajajarlagi-2.jpgOleh: Tias TatankaSampai sekarang, setiap melihat kanak-kanak, pikiran saya dipenuhi pertanyaan “apa yang ada di dalam benaknya?” Pandangan mata mereka begitu polos, cara bicara yang lucu, terkadang mereka melakukan hal sama berulang-ulang, yang menurut orang dewasa “begitu tidak praktis”. Itu menurut orang dewasa, tapi bagi kanak-kanak, perulangan itu amat menyenangkan, karena fitrahnya mereka sedang belajar. Hal terakhir sering kita sepelekan, kita cenderung tidak mau meniru proses ‘belajar’ seorang anak, akibatnya sering terjadi orang dewasa mengulang-ulang kesalahan. Continue Reading »

Artifact

Comments (1)

Permalink

Di Balik Layar 3: MAKNA FILOSOFIS NAMA “GOLA GONG”

Saya pulang ke Serang. Saya ceritakan semuanya pada Bapak dan Emak serta saudara. Saya merasa optimis, tapi Bapak mengingatkan, jangan terlalu banyak berharap, karena kalau tidak kesampaian bisa kecewa. Bapak malah menyarankan agar saya meneruskan kuliah lagi. “Kalau perlu kuliah di Serang saja, di Untirta!”  Saya tetap menolak. Saya mengurung diri lagi di kamar. Tak, tik, tuk….. bunyi mesin ketik memenuhi kamarku. Saya menyelesaikan lagi episode lanjutan “Balada Si Roy” sebanyak tujuh lagi. Jumlah seluruhnya 11 episode. Dan pada hari yang dijanjikan, saya berangkat ke majalah HAI. Kali ini saya tidak memakai tangan palsu. Sengaja. Saya sangat optimis, bahwa “Balada Si Roy” pasti akan diterima.   Continue Reading »

BalaDA SI RoY

Comments (1)

Permalink

RUMAHKU RUMAH BAGI DUNIA ANAK-ANAK

Oleh Tias TatankaAda hal baru di Rumah Dunia, sepekan terakhir ini. Rumah Dunia memang menggelinding dan selalu berbenah, menata diri, melakukan evaluasi dan tetap inovatif. Karenanya banyak teman yang untuk kali kesekian datang merasakan hal-hal baru di setiap kunjungannya. Continue Reading »

Essays

Comments (0)

Permalink

TEGUH ESHA, HELVY TIANA ROSA, DAN HABIBURRAHMAN EL SIRAZ

Saya baru dapat kabar dari mas gola gong. hati mas gong gembira banget. kata mas gong, banyak orang-orang hebat yang datang menengok. dia mengabssen, halfino berry dan crew asy syaamil (sekarang sygma group). halfino adalah orang pertama yang mengajak mas gong menerbitkan novel islami pertamanya; nyanyian perjalanan (bareng helvy tiana rossa) dan al bahri (oleh indika dijadikan mini seri di tv 7). lalu teguh es ha datang dibawa oleh jodhi juwono (temen lama mas gong di kompas) dan asdik soepardi anak riau, teguh es ha adalah pengarang ali topan anak jalanan idola mas gong. kata mas gong, seperti mimpi. mas gong memeluk mas teguh dan meraba-raba tubuh mas teguh. Continue Reading »

CurHAT

Comments (3)

Permalink

MY DAUGHTER IS A WRITER

belangetik-1.jpgByGola Gong/Translated by Dida Tea

“I shall be born in India again and again.With all her poverty, misery, and wretchedness, I love India best. ” (Santiniketan/Rabindranath Tagore).

When I was a child, I dreamed to be a pilot. In fact, My parents were teachers. So, adagio that “like father like son” or “fruits fell will not be fell down far from the tree”’ was broken here. That was only myths. In the eleventh age, because my right brain was too active resulting from often read and watched the film, I must give my left hands unwillingly was amputated by the elbow (1974). At that time I jumped from the tree; imagined that I was a sky diver, but without any parachute. Continue Reading »

My Book, My Heart

Comments (0)

Permalink

BERTEMU IDOLA, TEGUH “ALI TOPAN ANAK JALANAN” ES HA

Sulit untuk memulai menulis ini. Tapi ada rasa semangat baru. Aku tidak ingin dikurung sepi di kamar 406 RS Holistik Purwakarta. Aku menempuh resiko tangan kananku jemper dan panas. Aku ingin menulis. Ya, harus kutulis. Peristiwa Minggu, 6 April sangatlah luar biasa dan membuatku szemakin percaya, bahwa Allah memang memiliki rencana-rencana misterius bagi hambanya. Terutama hikmah bagiku yang sedang sakit.Pertama, Minggu lalu, Halfino Berry dari SYGMA (Syaamil Group Bandung) datang menjengukku. Memberi suntikan awal, bahwa mereka berada di belakangku. Hal - juga Helvy Tiana Rossa, Mutmainah, dan Asma Nadia - adalah anak-anak muda yang berjasa bagiku, mengenalkan Forum Lingkar Pena kepadaku, disaat aku frustasi menulis fiksi. Aku peluk Hal, terlebih dia ikut membantu meringankan biaya pengobatan. Juga Asma Nadia, Teh Pipit Senja, Forum Lingkar Pena, dan Portal Infaq. Subhanallah, kalian orang-orang yang menyayangiku. Continue Reading »

CurHAT

Comments (0)

Permalink

GOLA GONG: THE JOURNEY

The Journey” (Penerbit Maximalis Salamadani, Bandung, 2008 karangan Gola Gong, mengisahkan perjalanan Gola Gong menyusuri bumi Asia; dari Serawak, Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Juga perjalanan spiritualnya. Buku ini juga ibarat sebuah proses perjalanan hidup kita yang panjang menuju perhentian abadi di sisi-Nya. 

Aku menulis ini dengan segala macam perasaan beraduk jadi satu. Aku mengetik memakai laptop Andi, lelaki yang menikahi adik perempuanku, sambil berdiri di rumah sakit, di sebuah ruangan paviliun bernama Arafah, kamar 6, RSUD Serang. Ruangan ini termasuk mewah untuk ukuran rumah sakit di Serang. Tarifnya sehari mencapai Rp. 700.000,-, plus obat dan dokter. Untung Bapak memiliki kartu askes, sehingga mendapat potongan. Sambil mengetik, sesekali aku melihat ke Bapak, berbaring tak berdaya. Sejak Jumat, 7 Desember 2007, Bapak terbaring. Di hari pertama, Bapak masih sempat bercanda dengan terbata-bata, “Kontrak di rumah sakit hanya lima hari.” Sekarang sudah 5 hari. Continue Reading »

BukuKu Hatiku

Comments (2)

Permalink

GET GOLA GONG NEW BOOK

Gola Gong is an active author. For new home library collections or for wedding and birthday gift get his new books: 1) Cinta-Mu Seluas Samudra, about romance, family problem, true love (Mizania, Bandung), 2) The journey, about adventure (Maximalis Salamadani, Bandung), 3) Musafir, antologi short stories (Salamadani, Bandung). Available at nearest the book store. Happy reading!

Library

Comments (3)

Permalink

GoLA GonG: ME AND “THE WORLD HOME”

gong_016_about_me.jpg-Developing Mind and Shaping the New Generation-
- Bringing the World to Home through Books –

My name is Heri Hendrayana Harris. My pen-name is GOLA GONG. I was born in a small town, named PURWAKARTA, about 90 km east from Jakarta, on August 15th 1963. When I was two years old (1965), my parents moved to Serang, Banten, 70 km west from Jakata.

Serang was a small town which was known as a city with a bad stigma such as black magic and was left behind modernism. That time – about 1960 – 1980 - Serang Banten was like a city without a civilization, because there was no bookstore, local newspaper, library, and art centre (like theatre, galery, or museum). Continue Reading »

Cliping

Comments (1)

Permalink