ALHAMDULILLAH, MAS GOLA GONG PULANG
alhamdulillah ya rabb… mas gola gong sudah boleh pulang, sabtu, 26 april. memang, belum sembuh total, tapi menuju perbaikan. hasil rontgen terakhir, saraf di lumbar 5 - tulsg punggung, masih kejepit. akibatnya kaki kiri masih kesemutan. tapi kata dokter, sudah membaik. dikurangi saja aktivitasnya. jangan naek turun tangga. berarti mas gong belum boleh bekerja, terutama untuk urusan dengan kantor yang nggak ada liftnya. sedangkan di cervical alias leher, dari 3 titik yang kejepit, 1 titik sudah merenggang. kata mas gong, tidur sudah mulai nyenyak. tapi tangan masih suka kesemujtan. collar neck mesti terus dipakai. makanya kalo pulang, mas gong dilarang pegang hp, apalagi maen sms-an. segala urusan komunikasi lewat hp saya tangani dulu. yang penting kerinduan kami berkumpul utuh terwujud. hanya saja, setgiap akhir bulan, mas gong harus rfawat inap seminggu di rs holistik untuk rawat jalan alias kontrol. terapi2 ditgeruskan supaya saraf di lumbar sembuh. sedangkan di serang selama 3 minggu mas gong akan terapi yang ada, misalnya terapi di kolam renang, air panasd di batu kuwung banten selatan, akupuntur di cilegon, serta pola makan ala holistik. terima kasih buat temen-temen yang udah mensupport mas gong ya. allah sing mbales… (foto: mas gong dengan asdik soepardu dan mas teguh es ha, tias tatanka)



















The Journey” (Penerbit Maximalis Salamadani, Bandung, 2008 karangan Gola Gong, mengisahkan perjalanan Gola Gong menyusuri bumi Asia; dari Serawak, Malaysia, Thailand, Laos, Bangladesh, India, Nepal, dan Pakistan. Juga perjalanan spiritualnya. Buku ini juga ibarat sebuah proses perjalanan hidup kita yang panjang menuju perhentian abadi di sisi-Nya.
Aku menulis ini dengan segala macam perasaan beraduk jadi satu. Aku mengetik memakai laptop Andi, lelaki yang menikahi adik perempuanku, sambil berdiri di rumah sakit, di sebuah ruangan paviliun bernama Arafah, kamar 6, RSUD Serang. Ruangan ini termasuk mewah untuk ukuran rumah sakit di Serang. Tarifnya sehari mencapai Rp. 700.000,-, plus obat dan dokter. Untung Bapak memiliki kartu askes, sehingga mendapat potongan. Sambil mengetik, sesekali aku melihat ke Bapak, berbaring tak berdaya. Sejak Jumat, 7 Desember 2007, Bapak terbaring. Di hari pertama, Bapak masih sempat bercanda dengan terbata-bata, “Kontrak di rumah sakit hanya lima hari.” Sekarang sudah 5 hari. 


