A WORLD OF READING

May 13th, 2008

avinciena1.jpg

Local writers help combat illiteracy in rural Banten
By Ibnu Adam Aviciena - Inside Indonesia.org

Inspired by Banten’s past reputation as a centre for Islamic learning, a small group of citizens is tackling the high levels of rural illiteracy in this West Java province. They have established an organisation that hosts a library of thousands of books, conducts weekly discussions and runs writing classes. Some of the participants in these classes have written articles, stories and poems that have been published in local and national newspapers. Some have even gone on to write novels and screenplays. Every three months the group also publishes a book of poems, and this year it opened small libraries in a number of villages. Read the rest of this entry »

BERKAT CERITA ISLAMI HIDUP JADI BAROKAH

May 10th, 2008

akucintamu-7.jpgflpthumbnail1.jpgOleh Gola Gong*)

Pada kurun waktu 1995 – 2000 saya mengalami kemandegan dalam menulis. Tak ada gairah. Hari-hari saya hanya diisi dengan menulis skenario. Membosankan. Kepala hanya disuruh berpikir tentang rating, revenue, dan audience share. Dan ketika mempersiapkan diri hendak menulis cerpen atau novel, begitu duduk di depan komputer, kelima jari saya tak pernah bisa menyentuh tust-tust keyboard. Tak pernah bisa merangkai kata. Tubuh terasa kaku. Hati begitu pilu. Saya ingin menulis, tapi hati ini, hati ini! Saya sudah tak berselera lagi menuliskan hal-hal yang bersifat hedonis semata. Read the rest of this entry »

Di Balik Layar 7: PENGARANG BERLENGAN SATU

May 10th, 2008

images.jpgimages-2.jpgTiba-tiba saya terhenyak, ketika membaca beberapa surat dari pembaca “Balada Si Roy” (BSR), yang mengatakan saya tidak mau tampil diwawancara di majalah HAI, karena tangan saya buntung. Surat-surat dari pembaca BSR berdatangan ke redaksi HAI dan dimuat di surat pembaca.

Read the rest of this entry »

PENGHARGAAN ITU…

May 8th, 2008

awardwbdku.jpgOleh Gola Gong

Sekitar 2004, KNPI Banten mendatangi saya. Mereka berkehendak memberi anugrah pemuda pelopor kepada saya. Dengan segala hormat saya menolak. Tapi press release kadung menyebar. Pemberian penghargaan itu dilakukan di restoran Istana Nelayan, Tangerang. Saya sempat “dicemooh”, karena “menjilat ludah sendiri” oleh para aktivis mahasiswa di Banten. Apa pasal? Saya adalah termasuk orang yang gencar mengkritik kinerja KNPI Banten, bahkan pernah menyarankan KNPI Banten dibubarkan saja karena tidak transparan soal keuangan, jadi calo anggaran APBD, dan tidak cocok lagi dengan semangat reformasi. Setelah saya jelaskan, bahwa saya menolak penghargaan itu, barulah orang-orang menarik lagi “makian” kepada saya. Read the rest of this entry »

GRAMEDIA TEENWRITERS

May 8th, 2008

aku-and-lupus.jpgGola Gong, Boim Le Bon, Hilman “Lupus” Hariwijaya gave fiction and journalistic workshop at SMAN 2, Lampung, 1993. They were in friendship andarini joined in Gramedia Teenwriters.(1989 – 90). Another author were Zara Zettira, Adra P Daniel, Arini Suryokusumo, Lutfie, Bubin Lantang, Gus tf Sakai, Bahrudin Supardi. Right now Boim is a producer in RCTI (a TV station), Hilman is a scriptwriter in cinema electronic. Hilman’s novel “Lupus” and GG’s novel “Balada si Roy” representatived two difference characters in 80s. Lupus was an easy going, annoying, happy and seemed like a pop corn. Whereas Roy was a wild character, alarmist, radical, a rebel, looked like coffee. Lupus was a popular creative style, Roy refered to rock n’ roll. Hilman said Lupus physically reminded to Roger Taylor (Duran-duran), meanwhile Roy was mixing many characters such Sean Penn, Matt Dilon, Old Shaterhand, Mark Gregory, Ken Wahl, Jim Bowie and Ali Topan. (Translated by Tias Tatanka)

DUA PUISI GOLA GONG

May 8th, 2008

gong-bella.jpg1.

BAYI DALAM GENDONGAN

Oleh Gola Gong

Namaku bayi dalam gendongan

menjerit kurang makan dan pendidikan

: ibu, ibu, aku butuh susu ibu!

(aku tahu susu ibu penuh gizi

Tapi bapakku sarapannya sajak dan televisi) Read the rest of this entry »

WITH DANI IN LEMBAH BELIEM, PAPUA

May 8th, 2008

aku-di-dani.jpgSince young, GG had an obsession around the world. He wanted to know manything. He make a liften by a truck or train along Java-Bali (1981) for a few weeks, and the next year around Indonesia, didn’t care he had just one hand. Sometimes, the driver offered him to sit in the front, but GG was a real bagpacker and rather prefer sitting between other passangers in back of truck, talking to another. In this picture GG was in Dani Ethnic, Jayawijaya Mountain, Baliem Valley, Papua (1986). From Jayapura Airport he took off by Freeport airplane. (Translated by Tias Tatanka)

NGOBROL BARENG GOLA GONG DI RUMAH DUNIA

May 7th, 2008

akugaknulis.jpgsalamadani.jpgflp.jpg

Acara:Peluncuran 6 buku terbaru dan bincang ringan seputar karir dan proses kreatif Gola Gong. Waktu: Minggu, 18 Mei 2008, pukul 10.00 WIB. Tempat: Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam 40, Kampung Ciloang, Serang 42118, Tlp. 0254-224955


Sepulang dari RS Holistic Purwakarta, 3 Mei 2008 lalu, Gola Gong belum sembuh benar. Hasil diagnosa dokter terakhir, masih ada penyempitan (pengapuran) di cervical (leher) yang nonjok ke 2 syaraf. Itulah kenapa tangan kananya masih suka kesemutan dan dan panas dingin. Kaki kiri GG masih kesemutan. Di lumbar 5 (tulang punggung) ada 1 syaraf yang massih kejepit. Menurut dokter Fanny dan Ici (dokter jaga di Holistik), setiap akhir bulan GG harus control dan rawat inap selama seminggu. “Kontrol dengan melakukan terapi harus seumur hidup,” kata dokter Ici. �%9 uk sembuh total, memang sulit,” tambah dokter Ici. Read the rest of this entry »

ROY DIJENGUK ALI TOPAN

May 7th, 2008

gg-teguh.jpggg-cintamu.jpgPURWAKARTA, MINGGU–Novelis yang juga penggiat kebudayaan Rumah Dunia, Golagong yang sedang dirawat di RS Holistik, Purwakarta, terkejut melihat serombongan orang yang membezoeknya. Sebab, salah satu di antaranya adalah idola Golagong di masa remajanya.”Beliau ini adalah idola saya,” ucap Golagong seraya memegang lengan Teguh Esha, penulis novel Ali Topan yang menurut Golagong menjadi salah satu inspirator tokoh Roy dalam novel karyanya yang berjudul Balada si Roy.

Sejak 2 Maret 2008 penulis yang bernama Heri Hendrayana Haris itu dirawat karena pengapuran di tulang belakang hingga leher. Menurut Gong, begitu sapaan akarabnya, lantaran dirinya yang tak memiliki tangan kiri sehingga syarafnya tak seimbang. “Menurut dokter, andil terbesar proses pengapuran di tubuhku ini yang terbesar adalah sewaktu aku bersepeda keliling Asia,” papar penulis buku Perjalanan Asia ini. Read the rest of this entry »

GOLA GONG BERPOSE DENGAN SUKU LONG NECK

May 4th, 2008

akubirma-3.jpgDi Thailand, semuanya serba dibisniskan. Dunia pariwisata mendatangkan banyak uang bagi mereka. Sekecil apapun, yang berbau kebudayaan atau tradisi dikemas dan jadi daya tarik bagi turis mancanegara. Seperti di foto ini, GG berpose bersama suku Padhong alias Long Neck. Lokasinya di Segi Tiga Emas, perbatasan Tahiland – Myanmar, Thailand Utara. Dengan membayar sekian ratus ribu rupiah, kita diajak berpetualang menembus hutan dan perbatasan Myanmar; berjalan kaki dan menyusuri sungai. Mirip dengan berpetualang menyusuri Kanekes menuju suku Baduy, di Banten Selatan. Lihatlah sekarang, ketika GG sakit pengapuran di leher. Ketika memakai collart neck, mirip juga dengan suku Long neck, ya!

Di Balik Layar 6: TIGA KALI TIGA METER

May 4th, 2008

senyum.jpghai.jpgOleh Gola Gong

Di redaksi majalah HAI, saya bertemu dengan Hilman, Boim, dan Gusur. Juga dengan Adra P. Daniel. Cerita bersambung mereka dimuat di majalah HAI lebih dulu daripada saya. Mereka anak-anak muda, yang tidak berbeda dengan saya, ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Mbak Sri, sekretaris redaksi, memperkenalkan kami. “Oh, ini Gola Gong,” kata Hilman, tersenyum. Kami berjabatan tangan. Boim juga. Hilman memuji “Balada Si Roy”, yang baru muncul empat episode sudah menggebrak. “Sangat laki,” tambh Hilman. Saat itu Hilman yang tidak banyak bicara, masih kuliah di Uiversitas Pancasila, Boim yang hobi ngocol dan itemnya minta ampun, di STP (sekarang IISIP Lenteng Agung), Adra yang kemayu di IKIP Rawamangun. Gusur yang kalau bicara seperti pejabat kelurahan, tidak kuliah, sama seperti saya. Pertemuan yang menyenangkan dengan mereka. Saya merasakan, bahwa kai mempunya mimpi besar sama. Saaat itu mereka sedang pada puncak keemasan. Read the rest of this entry »

GOLA GONG POSED WITH LONG NECK ETHNIC

May 4th, 2008

akubirma-3.jpg

In Thailand a place where everything being traded, tourism business gives much money to the people. A little thing about culture or tradition were packaged as best as they could and attract tourist’s attention. As this picture, Gola Gong posed with Padhong (Long Neck) Ethnic in Gold Triangle, borderline between ThailandMyanmar, North Thailand.. By payment amount hundreds rupiahs we could have adventure experience through the jungle and along borderline of  Myanmar, walking along the river. Looks like journey from Kanekes to Baduy Ethnic in South Banten. Look at now, when  GG got the pain in his cervical, in his collar neck resembles to Long Neck Ethnic, isn’t he? (Translated by Tias Tatanka)

DARI “PERJALANAN ASIA” KE “THE JOURNEY”:

May 4th, 2008

malaka-31.jpgFoto ini diambil di Malacca, Malasyia, 1991. Saat melakukan perjalanan pada 1991 – 1992, Gola Gong membeli sepeda di Kuala Lumpur. Sepedanya dinama “The Master”. Dia bermimpi jadi Philippe Fogg, tokoh di novel “Around the World in Eighty Days” by Jules Vern. Dia bersepeda dari Kuala Lumpur ke perbatasan Singapura selama 1 bulan. Tidur di sembarang tempat; mesjid, halte, rumah penduduk, kuburan, dan sesekali di guest house. Lalu kembali ke Kuala Lumpur naik taksi. Nyambung naik kereta ke Negeri Sembilan, Malaysia. Dari sanalah dia bersepeda ke Bangkok selama 1 bulan. Hat Yai, Songkla…, terus menyusuri Thailand Selatan. Tidur di candi-candi alias wat, mencoba menyelami para bhiksu. Read the rest of this entry »

FROM “PERJALANAN ASIA” TO “THE JOURNEY”

May 4th, 2008

malaka-3.jpgcover-journey.jpgmaximalis.jpgThis picture taked in Malacca, Malaysia, 1991. When he journeid around 1991-1992. He bought a bike in Kuala Lumpur, he named “The Master”. He dreamed being Philippe Fogg, one of characters in “Around the World in Eighty Days” by Jules Vern. Gola Gong biked from KL to borderline of Singapore for a month. He slept everywhere, such mosque, shelter bus, home village, grave and once in a while in guest house. He went back KL with taxi, continuing by train to Negeri Sembilan, Malaysia. Then he biked to Bangkok for a month. Through Hat Yai, Songkla… biking along the South Thailand. Sleeping in several wat and tried to understand Monk’s life. Read the rest of this entry »

Di Balik Layar 5: SAYA JADI PENGARANG

May 4th, 2008

akuradik-4.jpgAkhirnya setiap hari Selasa, serial “Balada Si Roy” karya saya, selalu muncul di majalah HAI. Di ujung malam saya bersujud di sajadah, mengucap syukur pada Allah. “Telah Engkau tunjukan jalan-Mu, ya Rabbi…, jalan dimana kelak saya akan beribadah… Terima kasih, ya Rabbi…!” tak henti-hentinya saya mengucap syukur. Read the rest of this entry »

GOLA GONG DAN BADMINTON

May 4th, 2008

gg-rajet.jpggg-dobel.jpgGola Gong sejak kecil menyukai olahraga. Prestasinya di badminton bisa diandalkan. Di Banten dia bersaing dengan pebulutangkis normal. Dia menduduki ranking kedua junior di Banten pada 1982. Tim inti Kabupaten Serang pada 1982, tim sekolah di SMAN 1 Serang, dan tim kampus (Universitas Padjadjaran Bandung) pada 1985.. Pernah mengikuti Kejuaran Badminton Yunior se-Jawa Barat pada 1982 di Sukabumi dan mengalahkan wakil dari Kuningan. Read the rest of this entry »